Diberdayakan oleh Blogger.
ikum share

Jumat, 01 Juni 2012

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1)

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) : resume buku kesehatan masyarakat ini sengaja aku posting buat adeg-adeg angkatanku nanti dalam menempuh mata kuliah kesehatan masyarakat oleh Pak Hendra ^_^ . biar gag frustasi kayak aku yg harus ngetik buku setebal itu ... hhe

BAB 1
KESEHATAN MASYARAKAT
A.   Sekelumit Sejarah Kesehatan Masyarakat
Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani, yakni Asclepius dun Higia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia dapat mangobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik.
Higea, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/ penanganan tnasalah kesehatan sebagai berikut: 1) Asclopus melakukan pendekatan (pengobatan penyakit) setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. 2) Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan malalui ‘hidup seimbang’, yaitu menghindari makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat, dan melakukan olahraga. Apabila orang sudah jatuli sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya sacara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/ pembedahan.
Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan pencegahan atau preventif (preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut.
Pertama, pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara in­dividual, kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran-cenderung jauh. Sedangkan pendekatan preventif, sasaran atau pasien adalah masyarakat (bukan perorangan) masalah-masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat (sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.
Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di" tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.
Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya. Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau holistik.


B.   Perkembangan Kesehatan Masyarakat
Sejarah panjang perkembangan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu pengetahuan saja, melainkan sudah dimulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Oleh sebab itu, akan sedikit diuraikan perkembangan kesehatan masyarakat sebelum perkembangan ilmu penge­tahuan (pre-scientific period) dan sesudah ilmu pengetahuan itu berkembang (scientific period).
a.       Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan
Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani, dan Roma telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usaha untuk penanggulangan masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut terdapat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.
Dari catatan-catatan tersebut dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas dan dahsyat. Namun, upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan pada zaman itu.
b.      Periode Ilmu Pengetahuan
Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan mansuia, termasuk kesehatan. Di samping itu, pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikem­bangkan pendidikan untuk tenaga kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas, dan di dalamnya terdapat sekolah (fakultas) kedokteran. Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada, dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah diperhatikan Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan penerapan ilmu di masyarakat. Pengembagan kurikulum sekolah kedokteran sudah didasarkan pada to adumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan basil interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran/kesehatan.
Dan segi pelayanan kesehatan masyarakat,  pada tahun 1855 pemerintah Amerika membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah menyelenggrakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.

C.   Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indone­sia dimulai sejak pemerintahan Belanda abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Kolera masuk di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937, terjadi wabah kolera eltor di Indonesia, kemudian pada tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia. Melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. Sehingga berasal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
Namun demikian di bidang kesehatan masyarakat yang lain, pada tahun 1807 pada waktu pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, dilakukan pelatihan dukun banyi dalam praktik persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka kematian bayi yang tinggi pada waktu itu. Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih kebinanan, kemudian baru pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didafaftarnya para dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.
Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun , 1934, dan 1935 terjadi epidemi di beberapa tempat, tama di pulau Jawa. Kemudian mulai tahun 1935 dilakukan ram pemberantasan pes ini, dengan melakukan penyem­tan DDT terhadap rumah-rumah penduduk dan juga inasi massal. Tercatat sampai pada tahun 1941, 15.000.000 Wang telah memperoleh suntikan vaksinasi. Pada tahun 1925 Kydrich seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-Purwokerto pada waktu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya ia menyimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan itu adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan. Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, seperti di kebun, di kali, di selokan, bahkan di pinggir jalan, padahal mereka mengambil air minum juga dari kali. Selanjut­nya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku penduduk. Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat Hydrich mengembang­kan daerah percontohan dengan melakukan 'propaganda' pendidikan) penyuluhan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich ini dianggap sebagai awal kesehatan masyarakat di In­donesia.
Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak panting perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung '1(zrt) pada tahun 1951 oleh Dr. Y. Leimena dan dr yang Selanjutnya dikenal dengan Patah-Leimena Konsep ini mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di Puskesmas.
Pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyakarat (Puskesmas). Puskemas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif wore terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kota madya atau kabupaten. Kegiatan pokok Puskesmas mencakup:
1.      Kesehatan ibu dan anak.
2.      Keluarga Berencana.
3.      Gizi.
4.      Kesehatan lingkungan.
5.      Pencegahan penyalit menular.
6.      Penyuluhan kesehatan masyarakat.
7.      Pengobatan.
8.      Perawatan kesehatan masyarakat.
9.      Usaha kesehatan gizi.
10.  Usaha kesehatan sekolah.
11.  Usaha kesehatan jiwa
12.  Laboratorium
13.  Pencatatan dan pelaporan.

Pada tahun 1969, sistem Puskesmas hanya disepakati 2 yakni tipe A dan B, di mana tipe A dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh seorang paramedis saja. Dengan adanya perkembangan tenaga medis, maka akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakan perbedaan Puskesmas tipe A dan tipe B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai oleh seorang dokter. Pada tahun 1979 juga dikembangkan satu piranti manajerial guna penilaian Puskemas, yakni stratifikasi Puskesmas sehingga dibedakan adanya:
a.       Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat baik.
b.      Strata dua : Puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar.
c.       Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi di bawah rata-rata.
Selanjutnya Puskesmas juga dilengkapi dengan dua piranti manajerial yng lain, yakni micro planning untuk perencanaan dan, lokakarya mini (lokmin) untuk pengoperasian kegiatan dan pengembangan kerja sama tim. Akhirnya pada tahun 1984 tanggung jawab Puskesmas ditingkatkan lagi, dengan berkembangnya program paket terpadu kesehatan dan keluarga beren­cana.
Program ini mencakup:
a.       Kesehatan ibu dan anak.
b.      Keluarga berencana.
c.       Gizi.
d.      Penanggulangan penyakit diare.
e.       Imunisasi
Puskemas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan Posyandu di wilayah kerjanya masin.g­masing.
Tujuan dikembangkannya Posyandu sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan yakni:
a.       Mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak balita, dan angka kelahiran.
b.      Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagian dan sejahtera (NKKBS).
c.       Berkembangnya kegiatan-kegiatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya,
Pelayanan Posyandu menganut sistem 5 meja dengan urutan sebagai berikut:
Meja 1.         Pendaftaran pengunjung Posyandu dilayani oleh kader kesehatan.
Meja 2.         Penimbangan bayi, balita dan ibu hamil, dilayani oleh kader kesehatan.
Meja 3.         Pencatatan dan hasil penimbangan dari Meja 2 di dalam KMS, dilayani oleh kader kesehatan.
Meja 4.         Penyuluhan kepada ibu bayi/balita dan ibu hamil, oleh kader kesehatan.
Meja 5.         Pemberian imunisasi, pemasangan alat kontrasepsi, atau pengobatan bagi yan€ memerlukan, dan periksa hamil, dilayani olel kader kesehatan. Bila ada kasus- yang tidal dapat ditangani dirujuk ke Puskesmas.
                                            
D.   Definisi Kesehatan Masyarakat
Kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi. Upaya memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan merupa­kan kegiatan kesehatan masyarakat. Kemudian pada akhir abad ke-18 dengan diketemukan bakteri-bakteri penyebab penyakit den beberapa jenis imunisasi, kegiatan kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit Melalui imunisasi.
Dari pengalaman-pengalaman praktik kesehatan masya­rakat yang telah berjalan sampai pada awal abad ke-20, Winslow (1920) akhirnya membuat batasan kesehatan masyarakat yang sampai sekarang masih relevan, yakni: kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni: mencegah penyakit memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui Usaha-usaha Pengorganisasi Masyarakat.
Dari perkembangan batasan kesehatan masyarakat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

E.    Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat
Seperti disebutkan di atas bahwa kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni. Oleh sebab itu, ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari dua hal tersebut. Sebagai ilmu, kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2 disiplin keilmuan, yakni ilmu bio-medis (medikal biologi) dan ilmu-ilmu sosial (social science). Akan tetapi-sesuai dengan perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat pun berkembang. Sehingga sampai pada saat itu disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, fisika, ilmu lingkungan, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu pendidikan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, ilmu kesehatan masyarakat- merupakan ilmu yang multidisiplin.
Secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan masyarakat ini, antara lain:
a.             Epidemiologi.
b.            Biostatistik/statistik kesehatan.
c.             Kesehatan lingkungan.
d.            Pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku
e.             Administrasi kesehatan masyarakat.
f.             Gizi masyarakat.
g.            Kesehatan kerja.
Masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal maka pemecahannya harus secara multidisiplin. Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain:
a.             Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
b.            Perbaikan sanitasi lingkungan.
c.             Perbaikan lingkungan pemukiman.
d.            Pemberantasan vektor.
e.             Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat.
f.             Pelayanan kesehatan ibu dan anak.
g.            Pembinaan gizi masyarakat.
h.            Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.
i.              Pengawasan obat dan minuman.
j.              Pembinaan peran serta masyarakat, dan sebagainya.


BAB 2
EPIDEMIOLOGI

A.   Pengertian dan Peranan Epidemiologi
Pada mulanya epidemiologi diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja, tetapi dalam perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non-infeksi, sehingga epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya. Mencakup juga studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut. Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit tersebut.
Dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yakni:
a.             Mencakup semua penyakit
Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun non-infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrition), kecelaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja; sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan.
b.            Populasi
Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambaran­gambaran penyakit individu, maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok.
c.             Pendekatan ekologi
Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada kesehatan lingkungan manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pen­dekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungannya.
1.            Penyebaran Penyakit
Di dalam epidemiologi biasanya timbul pertanyaan yang  perlu direnungkan, yakni:
1)      Siapa (who). Siapakah yang menjadi sasaran penyebaran penyakit itu atau orang yang terkena penyakit.
2)      Di mana (where). Di mana penyebaran atau terjadinya penyakit.
3)      Kapan (when). Kapan penyebaran atau terjadinya penyakit tersebut.
Dengan kata lain terjadinya atau penyebaran suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni: orang, tempest dan waktu.
2.            Kegunaan
Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program kesehatan dan keluarga berencana adalah sebagai tool (alat) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu mempertanyan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi?
Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilamana masalah tersebut terjadi. Kegunaan lain dari epidemiologi khususnya dalam program kesehatan adalah dapat digunakan dalam perhitungan-perhitungan: prevalensi, kasus baru, case fatality rate, dan sebagainya.


B.   Metode-metode Epidemiologi
Di dalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atom metode, yakni:
1.            Epidemiologi Deskritif (Descriptive Epidemiology)
Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variable-vari­able epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place), dan waktu (time).
Orang (Person)
Di sini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kolas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas.
(1)         Umur
Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.
(2)         Jenis kelamin
Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di kalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalangan pria pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik.
(3)         Kelas sosial
Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungan­nya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur, seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan banyak contoh ditentukan pula tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial.
(4)         Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan, yakni:
a.       adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan, dan sebagainya.
b.      situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi, dan ulcus lambung).
c.       ada tidaknya ‘gerak badan' di dalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan di mana kurang adanya gerak badan.
d.      karena berkerumum, dalam satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penalaran penyakit antara para pekerja.
e.       penyakit, karena cacing tambang telah lama diketahui 'terkait pengan pekerjaan di tambang.
Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan Indonesia terutama pola penyakit kronis, misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.
(5)         Penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transpor, dan sebagainya.
(6)         Golongan etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan di dalam angka kesakitan atau kematian.
(7)         Status perkawinan
Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin tidak kawin, cerai, dan jada; angka kematian karena penyakit-penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu.
(8)         Besarnya keluarga
Di dalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.
(9)         Struktur keluarga
Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesak-desakan di dalam rumah yang luasnya terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggotanya karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia; dan sebagainya.


(10)     Paritas
Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun si anak. Dikatakan umpamanya terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit penyakit tertentu, seperti asma bronchiole, ulkus peptikum, pilorik, stenosis, dan seterusnya. Tetapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tempat (Place)
Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Pentingnya peranan tempat di dalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti.
Migrasi antardesa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya.
Peranan migrasi atau mobilitas geografis di dalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara, dal laut. Lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah.
Walaupun telah diadakan standardisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan pola penyakit antar­daerah di Indonesia dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut belum tentu representatifdan baik kualitasnya.

Waktu (Time)
Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam analisis epidemiologis. Oleh karena itu, perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu di mana terjadi perubahan angka kesakitan maka dibedakan (1) fluktuasi jangka pendek, di mana perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu, dan bulan. (2) perubahan-perubahan secara siklus di mana perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang­ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun, dan (3) perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang, bertahun-tahun atau puluhan tahun, yang disebut 'secular trends.
Fluktuasi jangka pendek
Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influenza (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan).
Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa:
1)      penderit terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan waktu inkkubasi rata-rata pendek.
2)      Perubahan perubahan secara siklus

Perubahan-perubahan secara siklus
Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan di mana timbulnya dan memuncaknya angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam irii dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun -pada penyakit bukan infeksi.
Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan (1) ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan, yakni apakah termperatur dan kelembaban memungkinkan transmisi, (2) adanya tempat perkembangbiakan alami dari vektor sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi. (3) selalu adanya kerentanan dan atau (4) adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang menyebabkan mereka terserang oleh 'vektor bornedisease' tertentu. (5) tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit. (6) adanya faktor-faktor lain yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya siklus berarti adanya perubahan dart salah satu atau lebih hal-hal tersebut.
Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit yang belum diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara bermusim. Tentunya observasi ini dapat membantu di dalam memulai dicarinya etiologi penyakit-penyakit tersebut dengan catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat perkem­bangbiakan. Perubahan dalam susunan reservoir penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia, seperti yang menyangkut pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.
Sebab-sebab timbulnya dan memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara bermusim belum dapat diterangkan secara jelas.
Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara bermusim dari produksi, distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi, maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama dalam hubungan dengan penyakit infeksi dan sebagainya.


2.            Epidemiologi Analitik (Analytic Epidemiology)
Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data dan informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif.
Ada tiga studi tentang epidemiologi ini, yaitu:
1)      Studi riwayat kasus (case history studies). Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyakit dengan kelompok orang tidak terkena (kelompok kontrol).
2)      Studi Kohort (kohort studies). Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut bermakna atau tidak.
3.            Epidemiologi Eksperimen
Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek, kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan).

C.   Pengukuran Epidemiologi
Di dalam uraian terdahulu telah diuraikan bagian dari epidemiologi yang bertujuan melihat bagaimana penyebaran kesakitan dan kematian menurut sifat-sifat orang, tempat dan waktu. Di dalam uraian ini akan diuraikan berbagai ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai dalam survei atau penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Ukuran dasar yang akan dibicarakan di sini adalah 'rate'.
Dalam hubungan dengan kesakitan akan dibicarakan insidence rate, prevalence rate (point period prevalence rate), at-lock rate, dan dalam hubungan dengan kematian akan dibicarakan crude death rate, disease specific  rate dan adjusted death rate. Sebelum membicarakan masing-masing tersebut perlu dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1)      Untuk penyusunan rate dibutuhkan tiga elemen, yakni (a) jumlah orang yang terserang penyakit atau yang meninggal, (b) jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reference population), dan (c) waktu atau periode di mana orang-orang terserang penyakit.
2)      Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan. tertentu maka penyebut juga harus terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama.
3)      Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, maka penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population at risk).

D.   Epidemiologi Penyakit-penyakit Menular
1.            Konsep Dasar Terjadinya Penyakit
Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari agen, induk semang atau lingkungan. Pendapat ini tergambar di dalam istilah yang dikenal luas dewasa ini, penyebab majemuk (‘multiple causation of disease') sebagai an dari penyebab tunggal (‘single causation’). Di dalam usaha ara ahli untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai timbulnya penyakit, mereka telah membuat model-model $timbulnya penyakit dan atas dasar model-model tersebut dilakukanlah eksperimen terkendali untuk menguji sampai di mana kebenaran dari model-model tersebut.
Tiga model yang dikenal dewasa ini ialah (1) segitiga epidemiologic (the epidemiologic triangle), (2) jaring-jaring sebab akibat (the web of causation), dan (3) roda (the wheel).


a.            Segitiga Epidemilogi
b.            Jaring-jaring sebab akibat
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan.
Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melaninkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat'. Dengan demikian  maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik.
c.             Roda
Model roda hanya memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit dengan tidak begitu mementingkan agent. Disini dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan bergantung pada penyakit yang bersangkutan. Sebagai contoh, peranan lingkungan biologis lebih besar dari yang lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vector home disease).


2.            Penyakit menular
Yang dimaksud dengan penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpiundah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melalui perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) agent atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah.
Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain karena 3 faktor berikut:
a.             Agent (penyebab penyakit)
b.            Host (induk semang)
c.             Route of transmission (jalannya penularan).
Keadaan tersebut dapat dianalogikan seperti per­kembangan suatu tanaman. Agent diumpamakan sebagai biji, host sebagai tanah, dan route of transmission sebagai iklim
a.      Agent-agent infeksi (Penyebab infeksi)
Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting di dalam epidemiologi yang merupakan penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi:
1)      Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya.
2)      Golongan riketsia, misalnya: tifus.
3)      Golongan bakteri, misalnya disentri.
4)      Golongan protozoa, misalnya malaria, filaria, schisto­soma, dan sebagainya.
5)      Golongan jamur yakni bermacam-macam panu, kurap, dan sebagainya.
6)      Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang, dan sebagainya.
Agar agent atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive), maka perlu persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1)      Berkembang baik.
2)      Bergerak atau berpindah dari induk semang.
3)      Mencapai induk semang baru.
4)      Menginfeksi induk semang baru. tersebut.

Kemampuan agent penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu faktor penting dalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit -(penyebab penyakit) mempunyai habitat sendiri-sendiri, sehingga ia dapat tetap hidup. Dari sini timbul istilah. reservoir, yang diartikan sebagai berikut 1) Habitat, tempat bibit penyakit tersebut hidup dan berkembang, 2) Survival, tempat bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat, sehingga dapat tetap hidup.
Reservoir di dalam manusia
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir dalam tubuh manusia antara lain, campak (measles), cacar air (small pox), tifus (typhoid), meningitis, gonoirhoea, dan sifilis Manusia sebagai reservoir dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier.
Carrier
Carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit dalam tubuhnya, tanpa menunjukkan adanya gejala penyakit, tetapi orang tersebut dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Convalescant Carriers adalah orang masih Mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari suatu penyakit.


Reservoir pada binatang
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada binatang umumnya adalah penyakit zoonosis. Zoonosis adalah penyakit pada binatang vertabrata yang dapat menular pada manusia. Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara, yakni:
1)      Orang makan daging binatang yang menderita penyakit misalnya, cacing pita.
2)      Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal tikus, malaria, filariasis, demam berdarah melalui gigitan nyamuk.
3)      Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang, misalnya rabies.
Benda-benda mati sebagai reservoir
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada benda-benda mati pada dasarnya adalah saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan yang cocok untuknya. Oleh karena itu, bila terjadi perubahan temperatur atau kelembaban dari kondisi di mana ia dapat hidup, maka ia berkembang biak dan siap infektif. Contoh clostradium tetani penyebab tetanus, C. otulinum penyebab keracunan makanan, dan sebagainya.

b.      Sumber infeksi dan penyebaran penyakit
Yang dimaksud sumber infeksi adalah semua benda, termasuk orang atau binatang yang dapat melewatkan menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup juga reservoir seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Macam-macam penularan (mode of transmission) suatu penyakit bias dengan kontak langsung dengan penderita, melalui pernapasan, infeksi, penetresi pada kulit dan infeksi melalui placenta.


c.    Faktor induk semang (host)
Terjadinya suatu penyakit (infeksi) pada seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang ada pada induk semang itu sendiri. Dengan kata lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada seseorang tergantung/ditentukan oleh kekebalan/ resistensi orang yang bersangkutan.
d.   Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular
Untuk pencegahan dan penanggulangan ini ada 3 pendekatan atau cara yang dapat dilakukan:
a)      Eliminasi reservoir (sumber penyakit)
Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan:
(1)   Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus untuk mengurangi kontak dengan orang lain.
(2)   Karantina, adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya bersama-sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain untuk itu. Biasanya dalam waktu yang lama, misalnya karantina untuk penderita kusta.

b)      Memutus mata rantai penularan
Meningkatkan sanitasi lingkungan dan higiene per­orangan merupakan usaha yang penting untuk memutuskan hubungan atau mata rantai penularan penyakit menular.
c)      Melindungi orang-orang (kelompok) yang rentan
Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penyakit menular. Kelompok usia yang rentan ini perlu perlindungan khusus (specific protection) dengan imunisasi, balk imunisasi aktif maupun pasif. Obat-obat prophylacsis tertentu juga dapat mencegah penyakit malaria, meningitis dan disentri baksilus.
Pada anak usia muda gizi yang kurang akan menyebabkan kerentanan pada anak tersebut. Oleh sebab itu, mening­katkan gizi anak merupakan usaha pencegahan penyakit infeksi pada anak.
E.         Imunisasi
1.            Pengertian
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.
2.            Macam Kekebabalan
Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2, yakni‑
a.    Kekebalan tidak spesifik (non-spesifik resistance)
Yang dimaksud dengan faktor-faktor non-khusus adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi badan dari suatu penyakit,- misalnya; kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang ke luar dari perut (usus), adanya reflek-reflek tertentu misalnya batuk, bersin dan sebagainya.
b.   Kekebalan spesifik (specipic resistance)
Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari dua sumber, yakni:
(1)   Genetik
Kekebalan yang berasal dari sumber genetik ini biasanya berhubungan dengan ras (warna kulit) dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang kulit hitam (Negro) cenderung lebih resisten terhadap penyakit malaria jenis vivax.


(2)   Kekebalan yang diperoleh (acquaied immunity)
`Kebebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan dapat bersifat aktif, dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang sembuh dari penyakit tertentu.
3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekebalan
Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan, antara lain umur, seks, kehamilan, gizi, dan trauma.
a.       Umur
Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita), dan orang tua lebih mudah terserang. Sedangkan pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tentu.
b.      Seks
Untuk penyakit-penyakit menular tententu seperti polio dan diphteia lebih parah terjadi pada wanita daripada pria.
c.       Kehamilan
wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit menular tertentu misalnya penyakit polio, pnemonia, malaria serta amebiosis. Sebaliknya untuk penyakit typhoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita hamil.
d.      Gizi
Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit-penyakit infeksi, sebaliknya kekurangan gizi berakibat kerentanan seseorang terhadap penyakit infeksi.
e.       Trauma
Stres salah satu bentuk trauma merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit infeksi tertentu.
Kekebalan masyarakat (heard immunity)
Kekebalan yang terjadi pada tingkat komuniti disebut ‘heard immunity'. Apabila heard immunity di masyarakat randah, masyarakat tersebut akan mudah terjadi wabah, sebaliknya apabila heard immunity tinggi, maka wabah jarang terjadi pada masyarakat tersebut.
Masa  inkubasi
Masa inkubasi adalah jarak waktu dari mulai terjadinya infeksi di dalam diri orang sampai dengan munculnya gejala­gejala atau tanda-tanda penyakit pada orang tersebut. Tiap-tiap penyakit infeksi mempunyai masa inkubasi berbeda-beda, mulai dari beberapa jam sampai beberapa tahun.
4.            Jenis-jenis Imunisasi
Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi:
a.       Imunisasi pasif (pasive immunization)
Imunisasi pasif ini adalah 'inmuno globulin jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles) pada anak‑anak.
b.      Imunisasi aktif (active immunization)
lmunisasi yang diberikan pada anak adalah:
·         BCG, untuk penyakit TBC.
·         DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, partusis dan tetanus.
·         Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis.
·         Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles).
lmunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin adalah Imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang dilahirkan.


5.   Tujuan Program Imunisasi
a.       Tujuan
Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi- Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut adalah disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio, dan tuberkulosis.
b.      Sasaran
·         Bayi di bawah umur 1 tahun (0 - 11 bulan)
·         Ibu hamil (awal kehamilan - 8 bulan).
·         Wanita usia subur (calon mempelai wanita).
·         Anak sekolah dasar kelas I dan VI.
c.       Pokok-pokok kegiatan
1.      Pencegahan terhadap-bayi (imunisasi lengkap)
2.      Pencegahan terhadap anak sekolah dasar
3.      Pencegahan lengkap terhadap ibu hamil dan PUS/calon mempelai wanita
4.      Jadwal pemberian imunisasi seperti terlihat pada bagan.
5.      Petunjuk pemberian vaksinasi diphteri, terutama pada anak SD, seperti yang sudah ditentukan.
6.      Pemantauan
Pemantauan harus dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program, supevisor dan petugas paksinasi. Tujuan pemantauan untuk mengetahui:
a.       Sampai di mana keberhasilan kerja kita.
b.      Mengetahui permasalahan yang ada
c.       Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki program.
d.      Bantuan yang diharapkan oleh petugas tingkat bawah.


Hal-hal yang perlu dipantau (dimonitor)
1)            Coverage dan drop out.
2)            Pengelolaan vaksin dan colk chain.
3)            Pengamatan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Dilihat dari waktu, maka pemantauan dapat dilakukan dalam: Pemantauan ringan dan Pemantauan Bulanan.
Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:
·         Cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan masing-masing bulan atau dengan cara komulatif.
·         Hasil cakupan per triwulan untuk masing-masing desa.,



BAB 3
STATISTIK KESEHATAN

A.   Pengertian, Tujuan dan Peranan Statistik
Secara umum arti statistik dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu:
Arti sempit:
Merupakan data ringkasan berbentuk angka, misalnya: Jumlah karyawan BKKBN, jumlah akseptor KB, jumlah peserta KB aktif di desa/kelurahan, jumlah balita yang ditimbang pada bulan tertentu, jumlah kelompok penimbangan yang melapor pada bulan tertentu, jumlah PPKBD/Sub PPKBD, dan lain sebagainya.
Arti luas:
Merupakan ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data termasuk cara pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian berdasarkan konsep propabilitas.
1.            Konsep statistik
Merupakan suatu pendekatan modern untuk menyajikan mengenai konsep-konsep dasar dan metode statistik secara lebih jelas dan langsung dapat membantu seseorang di dalam pengembangan daya kritik dalam suatu kegiatan pengambilan keputusan dengan menggunakan cara-cara kuantitatif.
Semua jenis pertanyaan tersebut membutuhkan suatu keputusan yang baik yang sudah memikirkan mengenai untung dan ruginya. Di dalam sebagian besar kasus-kasus pekerjaan yang kita alami sehari-hari, benefit dan cost adalah faktor utama yang poling diasosiasikan dengan pengambilan suatu keputusan: Akan tetapi kenyataan yang kita hadapi adalah bahwa suatu keputusan harus dibuat, walaupun dasar di dalam mengambil keputusan tersebut adalah sangat lemah, hal ini oleh karena data-data yang diperlukan juga tidak lengkap.
Oleh karena itu, penggunaan statistik adalah penting sifatnya dalam rangka membantu memberi bobot dalam mengambil keputusan. Dengan demikian apakah yang dibutuhkan oleh statistik dalam usaha untuk membantu mengambil keputusan?
Yang dibutuhkan adalah:
Data statistik atau bilangan yang mewakili suatu perhitungan atau pengukuran suatu objek. Dengan demikian, melalui teori serta metodologi dari statistik kita dapat membantu dan menentukan mengenai data yang harus dikompilasikan, bagaimana data tersebut dikumpulkan, diolah disajikan, dan dianalisis, serta kemudian ditarik kesimpulan.
Statistik menurut definisi dibagi menjadi dua bagian atau sub-kategori:
(1)   Descriptive Statistic
Adalah penggunaan statistik untuk tujuan menggambar­kan sesuatu yang spesifik saja, dan tidak memikirkan mengenai implikasi atau kesimpulan yang mewakili sesuatu yang besar dan umum. Cara penyajiannya dapat berbentuk grafik dan tabel-tabel.
(2)   Inferencial Statistic
Adalah suatu cara penggambaran suatu kesimpulan dari suatu set data yang sedang- diteliti dan hasilnya dapat dibuat suatu generalisasi.
2.            Peranan Statistik
Manfaat dan peranan statistik adalah membantu pars pengelola dan pelaksana program KB-Kes khususnya dalam me­ngambil keputusan yang selanjutnya dipakai dasar perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan.


Statistik sebagai bahan perencanaan
Statistik seperti telah dijelaskan pada butir terdahulu adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pengumpulan data, pengolahan penganalisisan, penyajian dan penarikan kesimpulan serta pembuatan keputusan berdasarkan data dan kegiatan analisis yang dilakukan. Dengan kata lain, setiap data yang dibutuhkan adalah data yang dapat dipercaya dan tepat waktu. Melalui data yang dapat dipercaya dan tepat waktu diharapkan seluruh kegiatan pengolahan data akan menghasilkan informasi untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Kemungkinan-kemungkinan penyimpangan yang telah dicoba untuk dieliminasi sekecil mungkin melalui berbagai metode yang dikembangkan dalam statistik, akan sagat membantu dalam setiap kegiatan perencanaan program.
Statistik sebagai bahan monitoring
Seperti telah tersebut dalam anti sempit bahwa statistik adalah data ringkasan berbentuk angka, maka hal ini sangat membantu di dalam suatu kegiatan monitoring. Oleh karena secara umum yang dilakukan dalam kegiatan monitoring adalah memonitor seluruh kekuatan dan kelemahan program yang menyangkut berbagai variabel yang berbentuk data ringkasan.
Statistik sebagai bahan evaluasi
Dengan mengetahui berbagai data yang dapat dipercaya maka selanjutnya kita dapat menganalisis dan memutuskan yang baik dan yang buruk. Selain itu melalui berbagai data yang ada kita dapat membandingkan dan selanjutnya membuat suatu generalisasi dari sampel yang kecil kepada populasi.
B.   Statistik Kesehatan
Statistik kesehatan adalah suatu cabang dari statistik yang berurusan dengan cara-cara pengumpulan, kompilasi, pengolahan dan interpretasi fakta-fakta numerik sehubungan dengan sehat dan sakit, kelahiran, kematian, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan itu pada populasi manusia. Apabila kegiatan pencatatan ini ditunjukan khusus pada kejadian-kejadian kehidupan manusia tertentu, yakni: kelahiran, kematian, perkawinan, dan perceraian, disebut statistik vital (vital statistics), atau sering juga disebut statistik kehidupan (bio statistic).
Statistik kesehatan mencakup juga statistik kehidupan, dan data .lain yang berkaitan dengan kehidupan itu

C.   Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data statistik dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan bantuan perangkat lunak (software) komputer. Pengolahan data secara manual dewasa ini sudah jarang dilakukan. Namun, untuk data yang berskala kecil dan dengan kelangkaan prasarana komputer dan kemampuan (keterampilan) sumber daya manusia, pengolahan secara manual masih digunakan (dilakukan).

D.   Penyajian Data
Cara penyajian data Pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1.      Penyajian dalam Bentuk Tekstular
Penyajian secara tesktular adalah penyajian data hasil penelitian dalam bentuk kalimat. Misalnya: penyebaran penyakit malaria di daerah pedesaan pantai lebih tinggi bila dibandingkan dengan penduduk pedesaan pedalaman. Penyajian data dalam bentuk tabel adalah suatu penyajian yang sistematik dari data numerik, yang tersusun dalam kolom atau jajaran. Sedangkan penyajian dalam bentuk grafik adalah suatu penyajian data secara visual. Penyajian hasil penelitian kuantitatif yang sering menggunakan bentul tabel atau grafik, oleh sebab itu yang akan diuraikan lebih lanjut dalam bab ini adalah kedua bentuk penyajian tersebut.
2.      Penyajian dalam-Bentuk Tabel
Berdasarkan penggunaannya, tabel dalam statistik dibedakan menjadi dua, yakni tabel umum (master table) dan tabel khusus. Tabel umum dipergunakan untuk tujuan umum, dan tabel khusus untuk tujuan khusus.
a.       Tabel Umum
Yang dimaksud tabel umum di sini adalah suatu tabel yang berisi seluruh data atau variabel hasil penelitian.
b.      Tabel Khusus
Tabel khusus merupakan penjabaran atau bagian dari tabel umum. Ciri utama dari tabel khusus ialah angka-angka dapat dibulatkan, dan hanya berisi beberapa variabel saja. Gunanya tabel khusus ini antara lain untuk menggambarkan adanya hubungan atau asosiasi khusus, dan menyajikan data yang terpilih (selective) dalam bentuk sederhana.
3.      Penyajian dalam Bentuk Grafik
Penyajian data secara visual dilakukan melalui bentuk grafik, gambar, atau diagram.
Ketentuan umum untuk membuat grafik, diagram, atau gambar data antara lain:
a.       Judul grafik, diagram, gambar atau skema harus jelas dan tepat. Judul terletak di atas tengah gambar atau grafik, dan menggambarkan ciri data, tempat dan tahun data tersebut diperoleh (what, where and when).
b.      Garis horizontal maupun garis vertikal sebagai koordinat harus di atas agar garis kurva tampak jelas.
c.       Skala pada grafik atau gambar harus ada catatan tentang satuan yang dipakai, misalnya tahun, hari, kilogram, celcius, dan sebagainya.
d.      Apabila data dari grafik atau gambar tersebut diambil dari sumber lain (bukan hasil penelitian sendiri), maka sumber data harus ditulis di bawah kiri grafik atau gambar tersebut.


E.         Ukuran-ukuran Statistik Kesehatan
Purata (rate) adalah ukuran umum yang sering digunakan dalam analisis statistik, khususnya statistik kesehatan. Rate adalah suatu jumlah kejadian dihubungkan dengan populasi yang bersangkutan.

Rate yang dihitung dari total populasi di dalam suatu area sebagai denominator (penyebut) disebut crude rate atau angka kasar (purata kasar). Sedangkan rate yang dihitung dari kelompok atau segmen tertentu disebut specific rate atau angka spesifik (purata spesifik).
BAB 4
MANAJEMAN KESEHATAN MASYARAKAT

A.   Pengertian Manajemen Kesehatan
Dalam kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuannya secara efektif diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga kegiatan dan atau pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan tiap kegiatan atau program itu tercapai dengan baik Prosess pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen, sedangkan proses untuk mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut 'Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat'.
Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut. "Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan non-petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan."
Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub-sistem) yang saling berhubungan dalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh sebab itu, kalau berbicara sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari sub-sistem dalam suatu unit atau' dalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif kuratif, promotif maupun rehabilitatif. Sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit, Balkesmas, dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkat­an kesehatan.
fungsi-fungsi manajemen itu pada garisnya terdiri dari:
a.             Perencanaan (Planning)
b.            Pengorganisasian (Organizing)
c.             Penyusunan personalia (Staffing)
d.            Pengkoordinasian (Coordinating)
e.             Penyusunan anggaran (Budgeting)
B.   Perencanaan Kesehatan
Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan antara lain:
a.       Perencanaan harus didasarkan kepada analisis dan pemahaman sistem dengan baik.
b.      Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi.
c.       Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik.
Secara sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan adalah `Rencana' (plan). Perencaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain:
a)            Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana
1)      Rencana jangka pendek (Long term planning), yang berlaku antara 10-25 tahun.
2)      Rencana jangka menengah (Medium range planning), yang berlaku antara 5-7 tahun.
3)      Rencana jangka pendek (Short range planning), umumnya berlaku hanya untuk 1 tahun.
b)            Dilihat dari tingkatannya
1)      Rencana induk (masterplan), lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi. Rencana ini mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yang luas.
2)      Rencana operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedoman atau petunjuk dalam meIaksanakan suatu program.
3)      Rencana harian (Day to day planning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.
c)            Ditinjau dari ruang lingkupnya
1)      Rencana strategis (strategi planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencan.a ini sulit untuk diubah.
2)      Rencana taktis (tactical planning) salah rencana yang berisi uraian yang bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya, asalkan tujuan tidak berubah.
3)      Rencana menyeluruh (comprehensive planning), ialah rencana yang mengandung uraian secara menyeluruh dan lengkap.
4)      Rencana terintegrasi (integrated planning), ialah rencana yang mengandung uraian yang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain di luar kesehatan.
Meskipun ada berbagai jenis perencanaan berdasarkan aspek-aspek tersebut di atas, namun praktiknya sulit untuk dipisah-pisahkan seperti pembagian tersebut.


1.            Proses Perencanaan
Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahan masalah, implementasi (pelaksanaan pemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan muncul masalah-masalah baru, kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih prioritas masalah, dan selanjutnya kembali ke siklus semula.
Di bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving), seperti digambarkan di atas. Secara terinci langkah-langkah perencanaan kesehatan adalah sebagai berikut :
a.      Indentifikasi Masalah
Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan masyarakat di lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.
b.      Menetapkan Prioritas Masalah
Kegiatan identifikasi masalah menghasilkan segudang masalah kesehatan yang menunggu untuk ditangani. Oleh karena keterbatasan sumber daya baik biaya, tenaga, dan teknologi, maka tidak semua masalah tersebut dapat dipecahkan sekaligus (direncanakan pemecahannya). Untuk itu maka harus dipilih masalah yang mana yang 'fleksible' untuk dipecahkan. Proses memilih masalah ini disebut memilih atau menetapkan prioritas masalah. Pemilihan prioritas dapat dilakukan melalui 2 cara, yakni‑.
c.       Menetapkan Tujuan
Menetapkan tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat ketetapan-ketetapan tertentu yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik apabila dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus.
a)      Tujuan Umum
Adalah suatu tujuan masih bersifat umum, dan masih dapat dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus, dan pada umumnya masih abstrak.
Contoh:
Meningkatkan status gizi anak balita di Kecamatan Cibadak.
b)      Tujuan Khusus
Adalah tujuan-tujuan yang dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan tercapai, apabila tujuan-tujuan khususnya tercapai. Contoh: Apabila tujuan umum seperti contoh tersebut di atas dijabarkan ke dalam tujuan khusus menjadi sebagai berikut:
·         Meningkatnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak balita.
·         Meningkatnya jumlah anak balita yang ditimbang di Posyandu.
·         Meningkatnya jumlah anak yang berat badannya naik dan sebagainya.
d.      Menetapkan Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya kegiatan mencakup 3 tahap pokok, yakni:
·         Kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan, misalnya: rapat-rapat koordinasi, perizinan dan sebagainya.
·         Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni kegiatan pokok program yang bersangkutan.
·         Kegiatan pada tahap penilaian yakni kegiatan untuk  mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut.
e.       Menetapkan Sasaran (Target Group)
Sasaran (target group) adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan digarap oleh program yang direncanakan  tersebut. Sasaran program kesehatan biasanya dibagi dua, yakni:
(a)    Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenal oleh program. Misalnya kalau tujuan umumnya: meningkatkan status gizi anak balita seperti tersebut di atas, maka sasaran langsungnya adalah anak balita.
(b)   Sasaran tidak langsung, adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut, namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung.
Misalnya, seperti contoh di atas, anak balita sebagai sasaran langsung sedangkan ibu anak balita sebagai sasaran tidak langsung. Ibu anak balita, khususnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak sangat menentukan status gizi anak balita tersebut.
f.        Waktu
Waktu yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat tergantung dengan jenis perencanaan yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan. Oleh sebab itu, waktu dan kegiatan sebenarnya dapat dijadikan satu, dan disajikan di dalam bentuk matriks, yang disebut 'Gant Chart'.
g.      Organisasi dan Staf
Dalam bagian ini digambarkan atau diuraikan organiHasi dan sekaligus staf atau personel yang akan melaksanak a ti kegiatan-kegiatan atau program tersebut. Di samping itu juga diuraikan tugas (jobdescription) masing-masing pelaksana tersebut. Hal ini penting karena masing-masing orang yang terlibat dalam program tersebut mengetahui dan melaksanakan kewajiban.


h.   Rencana Anggaran
Adalah uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian rencana biaya ini dikelompokkan menjadi:
a)      Biaya personalia
b)      Biaya operasional
c)      Biaya sarana dan fasilitas
d)     Biaya penilaian
i.        Rencana Evaluasi.
Rencana evaluasi sering dilupakan oleh para perencana, padahal hal ini sangat penting. Rencana evaluasi adalah suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah tercapai.

C.   Pengorganisasian
Setelah perencanaan telah dilakukan atau telah selesai (menjadi rencana), maka selanjutnya harus dilakukan pengorganisasian. Yang dimaksud pengorganisasian adalah mengatur personal atau staf yang ada dalam institusi tersebut agar semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana tersebut dapat berjalan dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai. Dengan kata lain pengorganisasian adalah pengkoordinasian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan suatu institusi, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengorganisasian mencakup beberapa unsur pokok, antara lain:
a.       Hal yang diorganisasikan ada 2 macam, yakni:
1)      Pengorganisasian kegiatan ialah pengaturan berbagai kegiatan yang ada di dalam rencana sehingga mem bentuk satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai tujuan.
2)      Pengorganisasian tenaga pelaksanaanialah mencakup pengaturan hak dan wewenang setiap tenaga pelaksana sehingga semua kegiatan mempunyai penanggung jawabnya.
b.      Proses pengorganisasian ialah langkah-langkah yang harus dilakukan sedemikian rupa sehingga semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat berjalan sebaik-baiknya.
c.       Hasil pengorganisasian ialah terbentuknya wadah atau sering disebut 'struktur organisasi' yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengorga­nisasian adalah suatu proses yang menghasilkan (struktur organisasi). Struktur organisasi adalah visualisasi kegiatan dan pelaksana kegiatan (personel) dalam suatu institusi. Dilihat dari segi pembagian kegiatan dan pelaksanaan tugas, fungsi dan wewenang, maka organisasi secara umum dibedakan atas 3 jenis, yakni:
1.            Organisasi Lini (Line Organization)
Dalam jenis organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan pelaksana­an. Peran pemimpin dalam hal ini sangat dominant di mana semua kekuasaan di tangan pimpinan. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan kegiatan yang utama adalah wewenang dan perintah. Memang bentuk organisasi semacam ini khususnya di dalam institusi-institusi yang kecil sangat efektif, karena keputusan-keputusan cepat diambil dan pelaksanaan keputusan juga cepat. Kelemahannya jenis organisasi semacam ini kurang  manusiawi, lebih-lebih para pelaksana tugas bawahan hanya dipandang sebagai robot, yang senantiasa, siap melaksanakan perintah.
2.            Organisasi Staf (Staff Organization)
Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksana Peran staf bukan sekadar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan. Bentuk organisasi ini muncul karena makin kompleksnya masalah-masalah organisasi sehingga pimpinan sudah tidak dapat lagi menyelesaikan semuanya dan memerlukan bantuan orang lain (biasanya para ahli) yang dapat memberikan masukan peinikiran-pemikiran terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Meskipun organisasi ini lebih baik dari yang perama, karena keputusan-keputusan dapat lebih baik, namun kadang-kadang keputusan-keputusan tersebut akan memakan waktu yang lama, karena melalui perdebatan-perdebatan yang kadang-kadang melelahkan.
3.            Organisasi Lini dan Staf
Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (lini dan staf). Dalam organisasi ini staf bukan sekadar pelaksana tugas, tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekadar memberi perintah atau nasihat, tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasihat tersebut.
Keuntungan organisasi ini antara lain: keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih baik karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang, dan tanggung jawab pimpinan berkurang karena mendapat dukungan dan bantuan dari staf.
Dalam kehitupan sehari-hari, apabila unit kerja (departemen, perusahaan, dan sebagainya) akan melaksanakan suatu rencana tidak selalu langsung diikuti oleh penyusunan organisasi baru. Struktur organisasi itu biasanya sudah ada terlebih dahulu dan ini relatif cenderung permanen, lebih-lebih struktur organisasi departemen. Di samping itu, unit-unit kerja tersebut dijabarkan ke dalam unit-unit yang lebih kecil dan masing-masing unit-unit kerja yang lebih kecil ini mempunyai tugas dan wewenang yang berbeda-beda (Dirjen, Direktorat, Bidang, Seksi, Devisi-devisi, dan sebagainya). Untuk pelaksanaan rencana rutin cukup oleh staf yang ada, sehingga tidak perlu menyusun organisasi baru.
D.   Pengawasan dan Pengarahan
Pengawasan dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan­ - pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Agar pengawasan dapat berjalan dengan baik sekurang-kurangnya 3 hal yang diperhatikan, yakni:
1.            Objek Pengawasan
Yaitu hal-hal yang diawasi dalam pelaksanaan suatu rencana. Objek pengawasan ini banyak macamnya, tergantung dari program atau kegiatan yang dilaksanakan. Secara garis besar objek pengawasan dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni:
a)      Kuantitas dan kualitas program, yakni barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan atau program tersebut. Untuk program kesehatan yang diawasi adalah pelayanan yang diberikan oleh unit kerja tersebut.
b)      Biaya program, dengan menggunakan 3 macam standar, yakni modal yang dipakai, pendapatan yang diperoleh, dan harga program. Dalam bidang kesehatan yang dijadikan ukuran pengawasan adalah pembiayaan kegiatan atau pelayanan, hasil yang diperoleh dari pelayanan dan keuntungan kegiatan atau pelayanan.
c)      Pelaksanaan (implementasi) program, yaitu pengawasan terhadap waktu pelaksanaan, tempat pelaksanaan dan proses pelaksanaan apakah sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
d)     Hal-hal yang bersifat khusus, yaitu penga.wasan yang ditujukan kepada hal-hal khusus yang ditetapkan oleh pimpinan atau manajer.
2.            Metode Pengawasan
Tujuan pokok pengawasan bukanlah mencari kesalahan, namun yang lebih utama adalah mencari umpan balik (feedback) yang selanjutnya memberikan pengarahan dan perbaikan-perbaikan apabila kegiatan tidak berjalan dengan semestinya. Pengawasan dapat dilakukan dengan berbagai macam-macam, antara lain:
a)      Melalui kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang diawasi.
b)      Melalui analisis terhadap laporan-laporan yang masuk.
c)      Melalui pengumpulan data atau informasi yang khusus ditujukan terhadap objek-objek pengawasan.
d)     Melalui tugas dan tanggung jawabpara petugas khususnya para pimpinan. Artinya fungsi pengawasan itu secaraimplisit atau fungal pejabat (pimpinan) yang diberikan wewenang. Inilah: yang Hering disebut pengawasan melekat (Waskat).
3.            Proses Pengawasan
Pengawasan adalah suatu proses, yang berarti bahwa suatu pengawasan itu terdiri dari berbagai langkah, yakni:
1)      Menyusun rencana pengawasan. Sebelum melakukan pe­ngawasan terlebih dahulu harus disusun rencana pengawas­an yang antara lain mencakup: tujuan pengawasan; objek pengawasan, cara pengawasan, dan sebagainya.
2)      Pelaksanaan pengawasan: yaitu melakukan kegiatan pengawasan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
3)      Menginterpretasi .dan menganalisis hasil-hasil pengawasan. Hasil-hasil pengawasan yang antara lain berupa catatan - ­catatan dan dokumen-dokumen, foto-foto, hasil-hasil rekaman dan sebagainya diolah, diinterpretasi dan dinalisis.
4)      Menarik kesimpulan dan tindak lanjut. Dari hasil analisis tersebut kemudian disimpulkan, dan menyusun saran atau rekomendasi untuk tindak lanjut pengawasan tersebut.
Pengarahan pada hakikatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Dengan pengarahan (directing) diharapkan:
1.      Adanya kesatuan perintah (unity of command), artinya dengan pengarahan ini akan diperoleh kesamaan bahasa yang hams dilaksanakan oleh para pelaksana. Sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran yang dapat membingungkan para pelaksana.
2.      Adanya hubungan langsung antara pimpinan dengan bawahan, artinya dengan pengarahan yang berupa petunjuk atau perintah oleh atasan yang langsung kepada bawahan, tidak akan terjadi mis komunikasi. Di samping itu pengarah­an yang langsung ini dapat mempercepat hubungan antara atasan dan bawahan.
3.      Adanya umpan balik yang langsung: Pimpinan dengan cepat memperoleh umpan balik terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Selanjutnya umpan balik ini dapat segera digunakan untuk perbaikan.

E.   Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) di dalam suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Di dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen atau bagian-bagian di mana di dalamnya juga membentuk suatu proses di dalam suatu kesatuan, maka disebut sub-sistem (bagian dari sistem). Selanjutnya sub-sistem tersebut juga terjadi suatu proses berfungai sebagai suatu kesatuan sendiri Sebagai bagian dari sub-sistem tersebut.
Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling  berhubungan dan saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub-sistem tidak berjalan dengan baik, maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besarnya elemen-elemen dalam sistem itu adalah sebagai berikut:
a)      Masukan (Input):
Adalah sub-elemen-sub-elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya sistem.
b)      Proses:
Ialah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilan sesuatu (keluaran) yang direncanakan.
c)      Keluaran (out put), ialah hal yang dihasilkan oleh proses.
d)     Dampak (impact), akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.
e)      Umpan balik (feed back), juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan untuk sistem tersebut.
f)       Lingkungan (enviroment), ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi sistem tersebut.
Contoh: Di dalam pelayanan Puskesmas, yang menjadi in­put adalah: dokter, perawat, obat-obatan, fasilitas lain, dan sebagainya.Prosesnya adalah kegiatan pelayanan Puskesmas tersebut, out put-nya adalah pasien sembuh/tidak sembuh, jumlah ibu hamil yang dilayanani dan sebagainya, dampaknya adalah meningkatnya status kesehatan masyarakat. Sedangkan umpan balik pelayanan Puskesman antara lain keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan, sedangkan lingkungan adalah masyarakat dan instansi-instansi di luar Puskesmas tersebut.
Sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Dalam buku ini hanya dibahas sistem pelayanan kesehatan masyarakat saja. Secant umum pelayanan kesehatan masyarakat merupakan sub-sistem pelayanan kesehatan, yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).
F.          Sistem Rujukan
Kesehatan atau sehat-sakit adalah suatu yang kontinum dimulai dari sehat walafiat sampai dengan sakit parah. Kesehatan seseorang berada dalam bentang tersebut. Secara umum dapat dibagi dalam tiga tingkat, yakni: sakit. ringan (mild), saling sedang (moderate) dan sakit parah (severe). Dengan ada 3 gradasi penyakit ini maka menuntut bentuk pelayanan kesehatan yang berbeda pula. Untuk penyakit ringantidak memerlukan pelayanan canggih. Namun sebaliknya, untuk penyakit yang sudah parah tidak cukup hanya dengan pelayanan yang sederhana saja, melainkan memerlukan pelayanan yang sangat spesifik.
Hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja, tetapi juga masalah-masalah kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan-bahan laboratorium, dan sebagainya. Di samping itu, rujukan tidak berarti berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke fasilitas yang lebih tinggi, tetapi juga dapat dilakukan di antara .fasilitas-fasilitas kesehatan yang setingkat. Secara garis besar rujukan dibedakan menjadi dua, yakni:
a)            Rujukan Medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan pasien. Di samping itu juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi media), dan bahan-bahan pemeriksaan.
b)            Rujukan Kesehatan Masyarakat
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan operasional.

G.  Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan
Monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan -balik (feed back) terhadap porgram atau pelaksanaan kegiatan. Tanpa adanya monitoring dan evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh manatujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum. Monitoring adalah kegiatan untuk memantau proses atau jalannya suatu program atau kegiatan. Sedangkan evaluasi adalah kegiatan untuk menilai hasil suatu program atau kegiatan.
Evaluasi adalah membanding­kan antara hasil yang telah dicapai oleh suatu program dengan tujuan yang direncanakan. Menurut kamus istilah manajemen evaluasi ialah suatu proses bersistem dan objektif menganalisis sifat dan ciri pekerjaan di dalam suatu organisasi atau pekerjaan.
Dalam kegiatan evaluasi itu mencakup langkah-langkah, yaitu:
a.       Menetapkan atau memformulasikan tujuan evaluasi, yakni tentang apa yang akan dievaluasi terhadap program yang dievaluasi.
b.      Menetapkan kriteria yang akan digunakan dalam menentukan keberhasilan program yang akan dievaluasi.
c.       Menetapkan cara atau metode evaluasi yang akan digunakan.
d.      Melaksanakan evaluasi, mengolah dan menganalisis data atau hasil pelaksanaan evaluasi tersebut.
e.       Menentukan keberhasilan program yang dievaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan tersebut, serta memberikan penjelasan-penjelasannya.
f.       Menyusun rekomendasi atau saran-saran tindakan lebih lanjut terhadap program berikutnya,berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
Dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi  formatif dilakukan  untuk-men diag nosis suatu program, yang hasilnya digunakan untuk pengem­bangan atau perbaikan program. Biasanya formatif dilakukan pada proses program (program masih berjalan). Sedangkan evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program. Biasanya evaluasi sumatif ini dilakukan pada waktu program telah selesai (akhir program). Meskipun demikian pada praktik evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut.
Evaluasi suatu program kesehatan masyarakat dilakukan terhadap tiga hal :
a.       Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program, yang menyangkut penggunaan sumber daya, seperti tenaga, dana, dan fasilitas yang lain.
b.      Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil, yakni sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Misalnya, meningkat­nya cakupan imunisasi, meningkatnya ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan sebagainya.
c.       Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauhmana program ini mempunyak dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dampak program-pro­gram kesehatan ini tercermin dari membaiknya atau meningkatnya indikator-indikator kesehatan masyarakat. Misalnya, menurunnya angka kemati bayi (IMR), meningkatnya status gizi anak balita, menurunnya angka kematian ibu, dan sebagainya.
Dalam program kesehatan masyarakat, di samping evaluasi juga dilakukan monitoring atau pemantauan program. Menitoring dilakukan sejalan dengan evaluasi, dengan tujuan agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan program tersebut berjalan sesuai dengan yang direncanakan, baik waktunya maupun jenis kegiatannya. Dalam monitoring tidak dilakukan penilaian seperti pada evaluasi, tetapi hanya mengamati dan mencatat. Apabila terjadi ketidaksesuaian antara kegiatan dengan yang direncanakan dilakukan koreksi.


BAB 5
PENDIDIKAN DAN PERILAKU KESEHATAN

A.   Prinsip - prinsip Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan itu penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan tetapi program-program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat dan yang mudah dilihat atau diukur, karena pendidikan merupakan behavioral investmen jangka panjang.
Pengetahuankesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah dari pendidikan kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh pada meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran pendidikan kesehatan.

1.            Peran Pendidikan Kesehatan
Lingkungan yang mempunyai andil yang paling besar terhadap kesehatan. Kemudian berturut disusul oleh perilaku pelayanan kesehatan. Peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai kesehatan. Dengan kata lain, pendidikan kesehatan adalah suatu usaha untuk menyediakan kondisi psikologis dan sasaran agar mereka bererilaku sesuai dengan tuntunan nilai-nilai kesehatan.
Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan pada diri subjek belajar. Keluaran adalah hasil belajar itu sendiri, yaitu berapa kemampuan atau perubahan perilaku dari subjek perilaku.


B.   Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan, dan dimensi tempat pelayanan kesehatan.
Dari dimensi sasarannya dapat, dapatdikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.            Pendidikan kesehatan individual, dengan sasaran individu
2.            Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3.            Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
Dimensi tempat pelaksanaannya, pendidikan dapat berlangsung diberbagai tempat, dengan sendirinya sasarannya berbeda pula. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan:
1.            Promosi kesehatan, diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi.
2.            Perlindungan khusus, misalnya program imunisasi.
3.            Diagnosis dini dan pengobatan segera
4.            Pembatasan cacat
5.            Rehabilitasi, untuk memulihkan kecacatan dari suatu penyakit tertentu.
C.   Sub Bidang Keilmuan Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan sebagai usaha intervensi perilaku diarahkan pada 3 faktor pokok, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Dari perbedaan strategi dan pendekatan tersebut berakibat dikembangkannya mata ajaran atau sub disiplin ilmu sebagai bahan daripendidikan kesehatan. Mata ajaran tersebut : Komunikasi, Dinamika kelompok, Pengembangan dan pengorganisasian masyarakat, Pengembangan kesehatan masyarakat desa (PKMD), Pemasaran sosial, Pengembangan organisasi, Pendidikan dan pelatihan, Pengembangan media, Perencanaan dan evaluasi pendidikan kesehatan, Antropologi kesehatan, Sosiologi kesehatan dan Psikologi kesehatan.

D.   Metode Pendidikan Perilaku
Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut mereka dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan atau lebih baik dan pengetahuan tersebut dapat berpengaruh terhadap perilakunya.
1.            Metode Pendidikan Individual
         Metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau seseorang yang telah mulai tertarik pada suatu perubahan perilaku atau inovasi.
Bentuk pendekatan metode individual antara lain:
·         Bimbingan dan penyuluhan. Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif
·         Wawancara. Cara ini merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan.

2.            Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran.
·               Kelompok Besar.
Yang dimaksud kelompok besar adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang digunakan:
1)      Ceramah. Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.
2)      Seminar. Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar denganpendidikan menengah atas.

3)       
·               Kelompok Kecil
Peserta kegiatan kurang dari 15 orang. Metode yang digunakan:
a.       Diskusi Kelompok. Agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan.
b.      Curah Pendapat. Metode ini merupakan modifikasi metodediskusi kelompok.
c.       Bola Salju.kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan.
d.      Kelompok kecil-kecil.
e.       Role Play (memainkan peranan)
f.       Permainan Simulasi, gambaran antara role play dengan diskusi kelompok.

3.            Metode Pendidikan Massa
Untuk mengonsumsikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik, cara yang paling tepat adalah pendekatan massa. Pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancangsedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut.
Contoh metode pendekatan massa :
a)      Ceramah umum
b)      Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media
c)      Simulasi
d)     Sinetron
e)      Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun dalam bentuk tanya jawab.
f)       Bill board yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.

E.         Alat Bantu dan Media Kesehatan
1.            Alat bantu (peraga)
a.      Pengertian
Yang dimaksud alat bantu peraga alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidik atau pengajaran. Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap oleh panca indera.

b.      Faedah Alat Bantu Pendidikan
1)      Menimbulkan minat sasaran pendidikan
2)      Mencapai sasaran yang lebih banyak
3)      Membantu mengatasi hambatan bahasa, dll.

c.       Macam-macam Alat Bantu Pendidikan
1)      Alat bantu lihat
2)      Alat bantu dengar
3)      Alat bantu lihat-dengar

Ciri-ciri alat peraga kesehatan yang sederhana:
1.                  Mudah dibuat
2.                  Bahan-bahan dapat diperoleh dari bahan-bahan lokal
3.                  Ditulis/digambar dengan sederhana, dll.


d.      Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Pendidikan
Menggunakan alat peraga harus didasari pengetahuan tentang sasaran pendidikan yang akan dicapai alat peraga tersebut.
Tempat memasang alat peraga:
1.            Di dalam keluarga
2.            Di masyarakat
3.            Di instansi-instansi.
Alat peraga tersebut sedapat mungkin dapat dipergunakan oleh:
1.            Petugas-petugas puskesmas
2.            Kader kesehatan
3.            Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya
4.            Pamong desa.

e.       Merencanakan dan Menggunakan Alat Peraga
Biasanya kita menggunakan alat peraga sebagai pengganti objek-objek yang nyata sehingga dapat memberikan pengalaman yang tidak langsung bagi sasaran.
Tujuan yang Hendak Dicapai:
·               Tujuan pendidikan
·               Tujuan penggunaan alat peraga

Persiapan penggunaan alat peraga
Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya.


Cara menggunakan alat peraga
Cara menggunakan alat peraga sangat tergantung pada alatnya. Dan yang lebih penting bagi alat yang digunakan harus menarik, sehingga menimbulkan minat para pesertanya.
2. Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan. Alat-alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien.
a.       Media cetak, yaitu booklet, leaflet, flyer, flip chart, rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, poster, foto.
b.      Media elektronik, yaitu televis, radio, video, slide, film.
c.       Media papan, yaitu papan yang dipasang di tempat-tempat umum dapat diisi dengan pesan-pesan kesehatan.

F.    Perilaku Kesehatan
1.            Konsep perilaku
Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk manusia. Hereditas atau faktor keturunan adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku. Suatu mekanisme pertemuan antara kedua faktor dalam rangka terbentunya perilaku tersebut disebut proses belajar.


Prosedur pembentukan perilaku
1.      Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat berupa hadiah-hadiah bagi perilaku yang akan dibentuk.
2.      Melakukan analisis ntuk mengidetifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk perilakuyang dikehendaki.
3.      Menggunakan secara urutkomponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara.
4.      Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu.
2.            Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.
Perilaku kesehatan itu mencakup:
(1)   Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit. Tingkat pencegahan penyakit:
·         Perilaku peningkatan pemeliharaan kesehatan
·         Perilaku pencegahan penyakit
·         Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan
·         Perilaku pemulihan kesehatan
(2)   Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan.
(3)   Perilaku terhadap makanan
(4)   Perilaku terhadap lingkungan kesehatan
Perubahan-perubahan perilaku dalam diriseseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Belajar adalah suatu perubahan perilakku yang didasari oleh perilaku terdahulu.
Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, dan sebagainya yang berfungsi untuk mangolah rangsangan dari luar. Sedangan faktor ekstern meiputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik seperti iklim, manusia, sosial-ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.
G.        Domain Perilaku Kesehatan
Tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku yang terdiri dari ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Domain kognitif dalam arti, subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materiatau objek diluarnya.
1.            Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dari pengalaman dan penilitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
2.            Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mempunyai 3 komponen penting yaitu kepercayaan, kehidupan emisional, dan kecenderunga untuk bertindak.
Sikap ini terdiri dari beberapa tingkatan yaitu menerima, merespon, menghargai, bertanggung jawab.
3.            Praktik dan Tindakan
Tingkat-tingkat praktik:
1.      Persepsi
2.      Respon terpimpin
3.      Mekanisme
4.      Adaptasi


H.  Perubahan-perubahan Perilaku
Perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan lainnnya.
1.   Teori Stimulus-Organisme-Respon
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa peyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme.
Selanjutnya teori ini mengartikan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.
2.   Teori Festinger (Dissonance Theory)
Teori ini berarti bahwa keadaan kognitif dissonance merupakan keadaan  ketidak seimbangan psikologis yang yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu, maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi, dan keadaan ini disebut keseimbangan.
3.       Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu tergantung kepada keutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat mengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Katz berasumsi bahwa:
1.      Perilaku itu memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan.
2.      Perilaku dapat berfungsi sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya.
3.      Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti.
4.      Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dalam diri seseorang dalam menjawab suatu situasi.
4.       Teori Kurt Lewin
Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan-kekuatan penahan. Ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku dalam diri seseorang yaitu :
a.             Kekuatan pendorong meningkat
b.            Kekuatan penahan menurun
c.             Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan pendorong menurun
I.      Perubahan Perilaku dan Proses Belajar
Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Teori proses belajar:
1.            Teori Stimulus dan Transformasi
Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok besar, yaitu stimulus respon yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang telah memperhitungkan faktor internal.
Kelompok teori proses belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor internal antara lain :
a.       Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang dirumuskan oleh Neiser
b.      Teori Gestalt yang mendasarkan pada teori belajar pada psikologi gestalt
2.            Teori-teori Belajar Sosial
Untuk melangsungkan kehidupan manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam belajar yaitu belajar secara fisik dan psikis. Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial, dimana seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam kontek sosial.


1        Teori belajar sosial dan tiruan dari Millers dan Dollard
Prinsip belajar ini terdiri dari 4 yaitu dorongan, isyarat, tingkah laku balas, dan ganjaran. Keempat prinsip ini saling engkait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran, dst.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap manusia untuk berlaku isyarat adalah rangsangan yang membutuhkan “bila” dan “dimana” suatu respon akan timbul dan terjadi. Anjaran adalah rangsangan yang menetapkan apakah tingkh laku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain.
Mekanisme tingkah laku tiruan, yaitu:
a.             Tingkah laku sama
b.            Tingkah laku tergantung
c.             Tingkah laku salinan

2        Teori belajar sosial dari Bandura dan Walter
Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru:
a.             Efek modeling
b.            Efek menghambat
c.             Efek kemudahan

J.     Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku
1.            Perubahan alamiah
Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau social budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya akan mengalami perubahan.
2.            Perubahan rencana
Terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh objek.
3.            Kesediaan untuk berubah
Apabila terjadi suatu inovasipembangunan di dalam masyarakat. Maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat menerima perubahan tersebut, tetapi sebagian lagi sangat lambat.
Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku oleh WHO dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.            Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan pada sasaran sehingga ia mau melakukan seperti yang diharapkan.
2.            Pemberian Informasi
Dengan memberikan informasi tentang sesuatu hal maka akan menimbulkan kesadaran masyarakat untuk melakukan atau berperilaku sesuai informasi yang diterima.
3.            Diskusi dan Partisipasi
Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua.



BAB 6
KESEHATAN LINGKUNGAN

A.   Pengertian dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positiv terhadap terwujudnya status kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup perumahan, pembuatan kotoran manusia, penyediaan air bersih, pembuangan sampah, dll. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup didalamnya.
B.   Perumahan (Housing)
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah rumah
1)            Faktor lingkngan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
2)            Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat
3)            Teknik yang dimiliki oleh masyarakat
4)            Kebijaksanaan (peraturan) pemerintah yang menyangkut tata guna tanah.
C.   Penyediaan Air Bersih
Air adalah sangat penting bai kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan.
Syarat-syarat air minum yang sehat:
a.       Syarat fisik, yaitu air harus bening, tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya
b.      Bakteriologis, yaitu harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen
c.       Kimia, yaitu harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula
Pengolahan air minum secara sederhana
1.            Pengolahan secara alamiah yaitu dalam bentuk penyimpangan
2.            Pengolahan air dengan menyaring
3.            Pengolahan air dengan menambahkan zat kimia
4.            Pengolahan air dengan mengalirkan udara
5.            Pengolahan air dengan memanaskan sampai mendidih

D.   Pembuangan Kotoran Manusia
Yang dimaksud dengan kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang sudah tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan oleh tubuh.
Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh kotoran manusia yaitu tifus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing, schistosomiasis, dan sebagainya. Pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang sehat.
Teknologi pembuangan kotoran manusia secara sederhana
1.            Jamban cemplung, kakus
2.            Jamban cemplung berventilasi
3.            Jamban empang
4.            Jamban pupuk
5.            Septik tank
E.   Pengolahan Sampah
Sampah mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut
1.            Adanya suatu benda atau benda padat
2.            Adanya hubungan langsung/tidak langsung dengan kegiatan manusia
3.            Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi
Pengelolaan Sampah
a.             Pengumpulan dan pengangkutan sampah
Pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah.
b.            Pemusnahan dan pengelolaan sampah dengan ditanam, dibakar, dan dijadikan pupuk.

F.          Pengolahan Air Limbah
Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat umum lainnya yang pada umumnya mengandung zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menganggu lingkungan hidup. Sumber-sumber air limbah:
1.            Air buangan yang bersumber dari rumah tangga
2.            Air buangan industri
3.            Air buangan kotapraja

1)            Karakteristik Air Limbah
a.            Karakteristik fisik.
Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi
b.            Karakteristik kimiawi.
·         Gabungan yang mengandung nitrogen
·         Gabungan yang tidak mengandung nitrogen
c.             Karakteristik bakteriologi.
Kandungan bakteri patogen terdapat juga dalam air limbah.

Gangguan kesehatan akibat air limbah
a.       Menjadi transmisi atau media penyebaran penyakit terutama tifus, kolera, dll
b.      Menjadi media berkembang biaknya mikro-organisme patogen
c.       Menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk
d.      Menimbulkan bau yang tidak enak
e.       Merupakan sumber pencemaran air permuakaan, tanah
f.       Mengurangi produktifitas manusia.

2)            Cara pengolahan air limbah
a.             Pengeceran
b.            Kolam oksidasi (pemanfaatan sinar matahari)
c.             Irigasi


BAB 7
KESEHATAN KERJA
A.   Batasan
Kesehatan kerja adalah aplikasi kesehatan masyarakat dalam suatu tempat kerja, dan yang menjadi pasien dari kesehatan kerja adalah masyarakat pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Dalam kesehatan masyarakat ciri pokoknya adalah upaya preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan), maka kedua hal tersebut juga menjadi ciri pokok dalam kesehatan kerja.
Pedoman dalam kesehatan kerja ialah: ‘ penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah’, maka upaya pokok kesehatan kerja ialah pencegahan kecelakaan akibat kerja. Sedangkan upaya promotif berpedoman bahwa dengan meningkatnya kesehatan pekerja, akan meningkatkan juga produktivitas kerja.
Meskipun fokus kegiatannya pada preventif dan promotif, tetapi tidak berarti meninggalkan sama sekali upaya-upaya kuratif. Hal ini berarti kesehatan kerja dalam suatu perusahaan perlu dilengkapi dengan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan penyakit atau kecelakaan pada pekerja atau keluarganya. Tujuan akhir dari kesehatan kerja adalah untuk meningkatkan produktivitas seoptimal mungkin.
Tujuan utama kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a.       Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja
b.      Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.
c.       Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja.
d.      Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.
e.       Perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut.
f.       Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.
Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja yag sehat dan produktif.
B.   Determinan kesehatan kerja
Determinan kesehatan kerja mencakup tiga faktor utama, yakni:
1.            Beban kerja
Beban ini dapat berupa beban fisik, beban mental, ataupun beban sosial sesuai dengan jenis pekerjaan. Tingkat ketepatan penempatan seseorang pada suatu pekerjaan, di samping didasarkan pada beban optimum juga dipengaruhi oleh pengalaman, keterampilan, motivasi dan sebagainya. Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan dengan cara merencanakan suatu alat yang dapat mengurangi beban kerja.
2.            Beban tambahan
Beban tambahan adalah berupa kondisi atau lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pelaksanaan pekerjaan. Disebut beban tambahan karena lingkungan tersebut mengganggu pekerjaan, dan harus diatasi oleh pekerja yang bersangkutan. Beban tambahan ini dapat dikelompokkan menjadi 5 faktor, yaitu:
a.             Faktor fisik: penerangan yang tidak cukup, suhu udara panas dll.
b.            Faktor kimia: bau gas, bau asap, debu dll.
c.             Faktor biologi: nyamuk, lalat, kecoa, lumut dll.
d.            Faktor fisiologis: peralatan kerja yang tidak sesuai.
e.             Faktor sosial-psikologis: adanya klik, gosip, cemburu dll.
Agar faktor-faktor tersebut tidak menjadi beban tambahan kerja, maka lingkungan kerja harus ditata secara sehat atau lingkungan kerja yang sehat. Lingkungan kerja yang tidak sehat akan menjadi beban tambahan bagi pekerja atau karyawan, misalnya:
a.       Penerangan atau pencahayaan uang kerja yang tidak cukup dapat menyebabkan kelelahan mata.
b.      Kegaduhan dan bising dapat mengganggu konsentrasi, mengganggu daya ingat, dan dapat menyebabkan kelelahan psikologis.
c.       Gas, uap, asap, dan debu yang terhirup lewat pernapasan dapat mempengaruhi berfungsinya berbagai jaringan tubuh, yang akhirnya menurunkan daya kerja.
d.      Binatang, khususnya serangga (nyamuk, kecoa, lalat, dan sebagainya) disamping mengganggu konsentrasi kerja, juga merupakan pemindahan (vektor) dan penyebab penyakit.
e.       Alat-alat bantu kerja yang tidak ergonomis (tidak sesuai dengan ukuran tubuh) akan menyebabkan kelelahan dalam bekerja yang cepat.
f.       Hubungan atau iklim kerja yang tidak harmonis dapat menimbulkan kebosanan, tidak betah kerja dan sebagainya, yang akhirnya menurunkan produktivitas kerja.

3.            Kemampuan kerja
Kemampuan seseoarang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain, meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda. Kapasitas adalah kemampuan yang dibawa dari lahir oleh seseorang yang terbatas. Artinya kemampuan tersebut dapatberkembang karena pendidikan atau pengalaman, tetapi sampai pada batas-batas tertentu saja.
Pekerja yang ketrampilannya rendah akan menambah beban kerja mereka, sehingga berpengaruh pada kesehatan mereka. Oleh karena kebugaran, pendidikan, dan pengalaman mempengaruhi tingkat ketrampilan pekerja maka ketrampilan atau kemampuan pekerja senantiasa harus ditingkatkan melalui program-program pelatihan, kebugaran, dan promosi kesehatan.
Peningkatan kemampuan tenaga kerja ini akan berdampak terhadap peningkatan produktivitas kerja. Program perbaikan gizi melalui pemberian makanan tambahan bagi pekerja kasar merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja.

C.   Faktor Fisik Dalam Kesehatan Kerja
Lingkungan dan kondisi kerja yang tidak sehat merupakan beban tambahan kerja bagi karyawan atau tenaga kerja. Sebaliknya, lingkungan yang higienis tidak menjadi beban tambahan juga meningkatkan gairah dan motivasi kerja. Lingkungan kerja ini dibedakan menjadi dua, yakni lingkungan fisik dan lingkungan sosial, keduanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan kerja. Lingkungan fisik mencakup: pencahayaan, kebisingan, dan kegaduhan kondisi bangunan, dan sebagainya.

D.   Faktor Kesehatan Manusia Dalam Kesehatan Kerja
1.            Ergonomi
Ergonomi bersal dari bahasa Yunani, ergon yang artinya kerja, dan nomos artinya peraturan atau hukum. Sehingga secara herfiah ergonomi diartikan sebagai peraturan tentang bagaimana melakukan kerja, termasuk menggunakan peralatan kerja. Batasan ergonomi adalah ilmu penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan kondisi dan kemampuan manusia, sehingga mencapai kesehatan tenaga kerja dan produktivitas karja yang optimal.


Dua misi pokok ergonomi adalah:
a.       Penyesuaian antara peralatan kerja dengan kondisi tenaga kerja yang digunakan.
b.      Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah cocok maka kelelahan dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien.
Tujuan ergonomi ialah: mencegah kecelakaan kerja (meningkatkan produksi kerja). Disamping itu, ergonomi juga dapat mengurangi beban kerja karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja.
Cara mengangkat beban secara ergonomis, dapat dilakukan menurut prosedur sebagai berikut:
a.       Beban yang akan diangkat harus dipegang tepat dengan semua jari-jari.
b.      Panggung harus diluruskan, beban harus diambil otot tungkai keseluruhan.
c.       Kaki diletakkan pada jarak yang tepat, sebelah kaki di belakang beban sekitar 60 derajat ke sebelah, dan kaki yang satunya diletakkan di samping beban menuju ke arah beban yang akan di angkat.
d.      Dagu di tarik ke belakang agar punggung dapat tegak lurus.
e.       Berat badan digunakan untuk mengimbangi berat badan.
f.       Lengan harus dekat dengan badan.

2.            Psikologi Kerja
Pekerjaan apapun akan menimbulkan reaksi psikologis bagi yang melakukan pekerjaan itu. Reaksi ini dapat bersifat positif, misalnya senang, bergairah, dan merasa sejahtera, atau reaksi yang bersifat negatif, misalnya bosan, acuh, tidak serius, dan sebagainya. Seorang pekerja atau keayawan yang bersikap bosan, acuh, dan tidak bergairah melakukan pekerjaannya ini banyak faktor yang menyebabkannya, antara lain tidak cocok dengan pekerjaan ini, tidak tau melakukan pekerjaan yang baik, kurangnya insentif,lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, dan lain-lainnya.
Cara ergonomis yang sesuai dengan teori psikologis antara lain: ( Silalahi,1985 )
a.       Memberikan pengarahan dan pelatihan tentang tugas dan para pekerja, sebelum melaksanakan tugas barunya.
b.      Memberikan uraian tugas tertulis yang jelas kepada pekerja atau karyawan.
c.       Melengkapi karyawan/pekerja dengan peralatan yang tidak sesuai/cocok dengan ukurannya.
d.      Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Aspek lain dari psikologi kerja sering menjadi masalah kesehatan kerja adalah ‘stres’. Stres terjadi hampir pada semua pekerja baik tingkat pimpinan maupun pelaksana. Stres dilingkungan kerja memang tidak dapat dihindarkan yang dapat dilakukan adalah bagaimana mengelolanya,mengatasi atau mencegah terjadinya/stres tersebut, sehingga tidak mengganggu kesehatan.

E.   Kecelakaan Kerja
Terjadinya kecelakaan kerja disebabkan oleh kedua faktor utama seperti telah diuraikan diatas, yakni faktor fisik dan faktor manusia. Oleh sebab itu, kecelakaan kerja juga merupakan bagian dari kesehatan kerja. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan akibat dari kerja. Sumakmur(1989) membuat batasan bahwa kecelakan kerja adalah suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja atau perusahaan.


BAB 8
GIZI MASYARAKAT

A.   Gizi Dan Fungsinya
Dalam kehidupan manusia sehari – hari, orang tidak terlepas dari makanan karena makanan adaalah salah satu persyaratan pokok untuk mausia, disamping udara (oksigen). Empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia adalah untuk :
a.       Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/ perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak
b.      Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari – hari
c.       Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air,mineral, dan cairan tubuh yang lain.
d.      Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit
Agar makanan dapat berfungsi seperti itu maka maakanan yang kita makan sehari-hari tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat tertentu sehingga memenuhi fungsi tersebut, dan zat-zat ini disebut gizi.
Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan ini disebut gizi. Batasan klasik mengatakan bahwa ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta diekresikan sebagai sisa (Achmad Djaeni, 1987). Dalam perkembangan selanjutnya ilmu gizi mulai dari pengadaan, pemilihan, pengolahan, sampai dengan penyajian makanan tersebut.
Untuk mencapai kesehatan yang optimal diperlukan makanan bukan sekedar makanan, tetapi makanan yang mengandung gizi atau zat-zat gizi. Zat-zat yang diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan ini dikelompokkan menjadi 5 macam, yakni protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Fungsi-fungsi zat makanan itu antara lain:
a.       Protein, diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan(protein nabati), dan makanan dari hewan (protein hewani). Fungsi protein bagi tubuh antara lain:
·         Membangun sel-sel yang rusak
·         Membentuk zat-zat pengatur, seperti enzim dan hormon
·         Membentuk zat inti energi (1 gram energi kira-kira akan menghasilkan 4,1 kalori).
b.      Lemak berasal dari minyak goreng, daging, margarin, dan sebagainya. Fungsi pokok lemak bagi tubuh ialah:
·         Menghasilkan kalori terbesar dalam tubuh manusia (1 gram lemak menghasilkan sekitar 9,3 kalori).
·         Sebagi pelarut vitamin A, D, E, K.
·         Sebagai pelindung terhadap bagian-bagian tubuh tertentu dan pelindung bagian tubuh pada temperatur rendah.
c.       Karbohidrat, berdasarkan gugus penyusun gulanya dapat dibedakan menjadi monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Fungsi karbohidrat adalah salah satu pembentuk energi yang paling murah karena pada umumnyasumber karbohidrat ini berasal dari tumbuh-tumbuhan(beras jagung, singkong, dan sebagainya) yang merupakan makanan pokok.
d.      Vitamin-vitamin, yang diberikan menjadi dua, yakni vitamin yang larut dalam air (vitamin A dan B), dan vitamin yang larut dalam lemak (vitmin A, D, E, dan K).
Fungsi masing-masing vitamin ini antara lain:
·         Vitamin A berfungsi bagi pertumbuhan sel-sel epitel dan sebagai pengatur kepekaan rangsang sinar pada saraf dan mata.
·         Vitamin B1 berfungsi untuk metabolisme karbohidrat, keseimbangan air dalam tubuh, dan membantu penyerapan zat lemak oleh usus.
·         Vitamin B2 berfungsi dalam pemindahan rangsang sinar ke saraf mata dan enzim berfungsi dalam proses oksidasi dalam sel-sel.
·         Vitamin B6 berfungsi dalam pembuatan sel-sel darah dan dalam proses pertumbuhan serta pekerjaan urat saraf.
·         Vitamin C berfungsi sebagai aktivtor macam-macam fermen perombak protein dan lemak dalam oksidasi dan dehidrasi dalam sel, penting dalam pembentukan trombosit.
·         Vitamin D berfungsi mengatur kadar kapur dan fostor dalam bersama-bersama kelenjar anak gondok, memperbesar kadar penyerapan kapur dan fosfor dari usus, dan mempengaruhi kerja kelenjar endoktrin.
·         Vitamin E berfungsi mencegah pendarahan bagi wanita hamil serta mencegah keguguran dan diperlukan keguguran dan diperlukan pada sel-sel sedang membelah.
·         Vitamin K berfungsi dalam pembentukan protombin yang berarti penting dalam proses pembekuan darah.
·         Mineral, terdiri dari zat kapur (Ca), zat besi (Fe), zat flour (F), natrium (Na) dan chlor (Cl), kalium (K), dan iodium (I). Secara umum fungsi mineral adalah sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur dan sel jaringan.

B.   Gizi Klinik Dan Gizi Masyarakat
Dilihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi kesehatan perorangan yang disebut gizi kesehatan perorangan dan gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang disebut gizi kesehatan masyarakat (public health nutrition). Kedua sifat keilmuan ini akhirnya masing-masing berkembang menjadi cabang ilmu sendiri, yakni cabang ilmu gizi kesehatan perorangan atau disebut gizi klinik (clinik clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi kesehatan masyarakat atau gizi masyarakat (comunity nutrition).
Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi pada penderita saja karena apabila mereka sudah sembuh akan kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, terapi penderita gangguan gizi masyarakat tidak saja ditunjukkan kepada penderitanya saja, tetapi seluruh masyarakat tersebut.
Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja,melainkan aspek-aspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, kependudukan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, penanganan atau perbaikan gizi sebagai upaya terpai tidak hanya diarahkan pada gangguan gizi atau kesehatan saja,melainkan juga ke arah-arah bidang yang lain. Misalnya, penyakit gizi KKP ( Kekurangan Kalori dan Protein) pada anak-anak balita, tidak cukup dengan hanya pemberian makanan tambahan saja (PMT), tetapi juga dilakukan perbaikan ekonomi keluarga, peningkatan pengetahuan, dan sebagainya

C.   PENYAKIT-PENYAKIT KEKURANGAN GIZI
Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila  konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrition ini mencakup kelebihan nutrisi gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi (undernutrition).
Penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi, dan yang merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya di  Indonesia, antara lain:
1.            Penyakit kurang kalori dan protein  (KKP)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi, atau terjadinya defisiensi dan defisi energi dan protein. Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).

2.            Penyakit kegemukan (obesitas)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi
Pada pendeita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu, pada umumnya lebih cepat gerah, capai,dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit: kardio-vaskuler, hipertensi, dan diabetes melitus.
3.            Anemia (penyakit kurang darah)
Penyakit ini karena kurang konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang atau urang dari kebutuhan tubuh.  Zat besi merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh, yang sangat diperlukan dalam pembentuk darah, yakni dalam bentuk hemoglobin (Hb).
Defisiensi Fe atau anemia besi di Indonesia jumlahnya besar sehingga sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemia besi, khususnya untuk ibu hamil sudah dilakukan dengan pemberian Fe secara cuma-cuma melalui puskesmas dan posyandu. Akan tetapi karena masih rendahnya pengetahuan sebagian besar ibu-ibu hamil masih rendah maka program ini tampak berjalan lambat.
4.            Zerophthalmia (defisiensi vitamin A)
Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit ini adalah kekurangan epithel biji mata dan kornea, karena glandula lacrimalis menurun. Terlihat bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Fungsi mata berkurang menjadi hemeralopia atau nictalpia, yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam, tidak sanggup melihat pada cahaya remang-remang. Pada stadium lanjut mata mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak yang disebut keratomalacia dan dapat menimbulkan kebutaan.
Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup 3 fungsi, yakni: fungsi dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam peroses melihat yang disebut zerophalmia. Oleh sebab itu, penanggulangan defisiensi kekurangan vitamin A yang penting disini ditunjukkan pada pencegahan kebutaan pada anak balita.program penanggulangan zerophalmia ditunjukkan pada anak balita dengan pemberian vitamin A secara Cuma-Cuma melalui puskesmas dan posyandu. Disamping itu, program pencegahan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan yang bergizi, khususnya makanan sebagaj sumber vitamin.
5.            Penyakit gondok endemik
Zat Iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen dari hormon thyroxin. Zat Iodium ini dikonsentrasikan dalam kelenjar gondok (glandula thyroidea) ditimbun dalam folikel kelenjar gondok, teronjugasi dengan protein (globulin) maka disebut thyroglubolin. Apabila diperlukan thyroglubolin ini dipecah dan terlepas hormon thyroxin yang dikeluarkan oleh folikel kelenjar ke dalam aliran darah.
Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypothyroidisme (kekurangan iodium) dan tubuh mencoba untuk mengonpesasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok. Akhirnya tercapai hypertrophi (membesarnya kelenjar thyroid), yang kemudian disebut penyakit gondok. Apabila kelebihan za iodium maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit yang disebut iodium dermatis. Penyakit gondok ini di Indonesia merupakan endemik terutama di daerah terpencil di pegunungan, yang air minumnya kekurangan zat iodium. Oleh sebab itu, penyakit kekurangn iodium ini disebut gondok endemik.
D.   Kelompok Rentan Gizi
Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang paling mudah menderita gangguan kesehatannya atau rentan kekurangan gizi. Biasanya kelompok rentan gizi ini berhubungan dengan proses kehidupan manusia. Oleh sebab itu, apabila kekurangan zat gizi  aka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatannya. Kelompok-kelompok rentan gizi ini  terdiri dari:
a.             Kelompok bayi umur 0-1 tahun
b.            Kelompok di bawah lima tahun (balita): 1-5 tahun
c.             Kelompok anak sekolah umur 6-12 tahun
d.            Kelompok remaja umur 13-20 tahun
e.             Kelompok ibu hamil dan menyusui
f.             Kelompok usia (usia lanjut)
Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam proses pertumbuhan dn perkembangan. Hal ini disebabakan karena pada usia lanjut terjadi proses degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi.
Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena pada usia lanjut terjadi proses degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi.
1.            Kelompok bayi.
Dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang lebih pesat. Ayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan 2 kali lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi dengan baik zat-zat gizi yang diperlukan ialah:
a.       Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan.
b.      Calsium (CI)
c.       Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis maka hal ini tidak begitu menjadi masalah.
d.      Vitamin A dan K yang harus diberikan sejak post natal.
e.       Fe (zat besi) diperlukan karena dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut terbuang.
Secara alamiah sebenarnya zat-zat gizi tersebut sudah terkandung dalam ASI (Air Susu Ibu). Oleh sebab itu, apabila gizi makan ibu cukup baik, dan anak diberi ASI pada umur sampai 4 bulan, zat-zat gizi tersebut sudah dapat mencukupi. Disamping itu Asi juga mempunyai keunggulan,  yakni mengandung immunoglobolin yang memberi daya tahan tubuh pada bayi, yang berasal dari tubuh ibu. Immunoglobolin ini dapat bertahan pada nak sampai dengan bayi berumur 6 bulan.
Peralihan ASI pada makanan tambahan (PMT) harus disesuaikan dengan kondisi anatomi dan fungsional alat pencernaan bayi. Setelah masa pemberian ASI eksklusif berakhir, maka mulai umur 4 bulan bayi diberi makanan tambahan, itu pun makanan yang sangat halus. Kemudian mulai umur 9 bulan sudah dapat diberikan makanan tambahan yang lunak, sampai dengan umur 18 bulan. Asi tetap diteruskan, dan mulai berumur 18 bulan dapat diberikan makanan tambahan agak keras (semi solid), sampai dengan umur 2 tahun. Akhirnya pada umur 2 tahun ASI dihentikan (anak disapih, dan sudah dapat diberi makanan seperti makana orang dewasa).
2.            Kelompok anak balita.
Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP), dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau anggapan yang menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain:
a.       Anak balita baru berada dalam transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa.
b.      Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh sehingga perhatian ibu sudah berkurang.
c.       Anak balita sudah mulai main di tanah, dan sudah dapat main di luar rumahnya sendiri, sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit.
d.      Anak balita belum bisa mengurus dirinya sendiri, termasuk dalm memilih makanan.  Dipihak lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan anak balita, karena dianggap sudah dapat makanan sendiri
Dengan adanya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), yang sasaran utamanya adalah anak balita sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita.
3.            Kelompok anak sekolah.
Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain: berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah), dan defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena pada umur-umur ini anak sangat aktif bermain dan banyak kegiatan, baik disekolah maupun di lingkungan rumah/tetangganya. Di pihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makan mereka menurun, sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan.
4.            Kelompok remaja.
Pertumbuhan anak remaja pada umur ini juga sangat pesat, kemudian juga kegiatan-kegiatan jasmani termasuk olah raga juga pada kondisi puncaknya. Oleh sebab itu, apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk perumbuhan dan kegiatan-kegiatannya, maka akan terjadi difesiensi yang akhirnya dapat menghambat pertumbuhannya.
Upaya untuk membina kesehatan dan gizi kelompok ini juga dapat dilakukan melalui sekolah (UKS), karena pada kelompok ini pada umumnya berada di bangku sekolah menengah pertama maupun atas (SMP atau SMA).  Disamping itu, pembinaan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan misalnya: karang taruna, remaja/pemuda gereja, remaja masjid, dan sebagainya juga tepat. Karena kelompok padaremaja ini sudah mulai tertarik untuk berorganisasi, atau senang berorganisasi.
5.            Kelompok ibu hamil.
Ibu hamil sebenarnya juga berhubungan dengan proses pertumbuhan, yakni pertumbuhan janin yang dikandungnya dan pertumbuhan berbagai organ tubuhnya sebagai pendukung proses kehamilan tersebut, misalnya mammae.
Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat:
a.       Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut Berat Badan Bayi Rendah (BBLR).
b.      Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan).
c.       Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati.
6.            Ibu menyusui.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi oleh sebab itu, maka untuk menjamin kecukupan ASi bagi bayi, ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Dalam batas-batas tertentu kebutuhan bayi akan zat-zat gizi ini diambil dari tubuh ibunya, tanpa menghiraukan apakah ibunya mempunyai persediaan cukup atau tidak. Apabila konsumsi makanan ibu tidak mencukupi, zat-zat dalam ASI akan terpengaruh.
7.            Kelompok usia lanjut.
Meskipun pada usia ini sudah tidak mengalami penurunan fungsinya maka sering terjadi gangguan gizi. Contohnya, pada usila beberapa gigi-geligi, bahkan semunya tanggal, sehingga terjadi kesulitan saat mengunyah makanan. Oleh sebab itu, apabila makanan tidak diolah sedemikain rupa sehingga tidak memerlukan pengunyahan, maka akan terjadi gangguan dalam pencernaan dan penyerapan oleh usus.

E.   Pengukuran Status Gizi Masyarakat
Di antara kelompok yang rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan anak balita.oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita ( bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut, dan masing-masing ahli mempunyai argumentsi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut.
Wattelow (1973) menyarankan, untuk pengukuran status gizi pada saat ini digunakan ukuran berat badan per tinggi badan. Sedangkan tinggi badan per umur hanya cocok mengukur status gizi pada saat yang lalu. Ia menyebutkan pula bahwa berat badan per umur berguna bagi pengukuran seri untuk anak dibawah 1 tahun.
Throwbridge, F. (1970) dari hasila studinya menyimpulkan bahwa ukuran berat badan per umur tidak atau kurang mampu membedakan antara malnutrisi akut dengan malnutrisi kronik. Oleh sebab itu, ia menyarankan berat badan per tinggi badan dann lingkar lengan atas adalah indikator yang paling baik untuk mengetahui prevalensi malnutrisi akut pada anak. sedangkan prevalensi malnutrisi kronik dipergunakan ukuran tinggi badan per umur.
Zetlin, N.F. (1673) menyarankan, untuk anak berumur kurang dari 2 tahun sebagai indikator pertumbuhan anak cukup menggunakan ukuran berat badan per umur saja. Dari hasil pengamatan, untuk anak berumur 2-5 tahun yang mempunyai berat badan rendah menunjukan adanya gejala malnutrisi yang berat. Selanjutnya, ia menyarankan bahwa berat badan per umur saja sudah dapat digunakan untuk mengukur status gizi pada anak di bawah 5 tahun, bahkan anak yang lebih tua pun dapat mempergunakan ukuran tersebut.
Morley, D. (1971) membahas bahwa pengukuran berat dan tinggi badan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kurang akuratnya dalam pelaksanaan pengukuran oleh para petugas. Tetapi ia menyatakan bahwa ukuran lain pun tidak mempunyai wilayah dinamis untuk pertumbuhan anak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa berat dan tinggi badan per umur dapat mencerminkan status gizi anak, baik pada waktu yang lampau maupun status pada saat ini.
Dan akhirnya untuk berat dan tinggi per umur sebagai indikator status gizi anak, pada umumnya para peneliti cenderung mengadu pada standar Harvard dengan berbagai modifikasi. Di bawah ini akan diuraikan 4 macam cara pengukuran yang sering digunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya:
1.            Berat badan per umur
Berdasarkan klasifikasi dari universitas harvard, keadaan gizi anak diklasifikasikan menjadi 3 tingkat, yakni:
·         Gizi lebih (over weight)
·         Gizi baik (well nourished)
·         Gizi kurang (under weight), yang mencakup kekurangan kalori dan protein (KKP) tingkat I dan II.
·         Klasifikasi dari standar harvard yang sudah dimodifikasi tersebut adalah:
·         Gizi baik, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya lebih dari 89% standar Harvard.
·         Gizi kurang, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umur berada di antara 60,1% - 80% standar Harvard
·         Gizi buruk, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar harvard.
2.            Tinggi badan menurut umur
Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga menggunakan modifikasi standar harvard, dengan klasifikasinya adalah:
·         Gizi baik, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/ anak menurut umurnya lebih dari 80% standar Harvard.
·         Gizi kurang, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya berada diantara 70,1% - 80% dari standar Harvard.
·         Gizi buruk, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Harvard.
3.            Berat badan menurut tinggi
Pengukuran berat badan menurut tinggi badan ini diperoleh dengan mengombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar harvard. Klasifikasinya adalah:
·         Gizi baik, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya leih dari 90% dari standar Harvard.
·         Gizi kurang, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya berada diantara 70,1% - 90% dari standar Harvard.
·         Gizi buruk, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya 70% atau kurang dari standar Harvard.



BAB 9
MENCERMATI GIZI BAYI,
AWAL KESEHATAN MASYARAKAT

A.   Pendahuluan
Bayi atau anak balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap penyakit-penyakit infeksi, termasuk diare dan infeksi saluran akut, utamanya pneumonia. Oleh sebab itu, perbaikan gizi masyarakat yang difokuskan pada perbaikan bayi dan anak balita merupakan awal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya kekurangan gizi pada bayi akan berakibat terhadap munculnya masalah kesehatan yang lain, dan akhirnya akan berdampak terhadap menurunnya derajat kesehatan masyarakat.
Kekurangan zat-zat gizi pada makanan bayi dapat meng­akibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan. Di samping itu, bayi menjadi lebih rentan terhadap penyakit infeksi dan selanjutnya bahkan dapat mengakibatkan kematian bayi tersebut. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi bayi sangat perlu mendapat perhatian yang serius. Gizi untuk bayi yang paling sempurna dan paling murah bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). Manfaat ASI saat ini sudah tidak dapat di­ragukan lagi dan pemerintah juga telah menggalakkan pem­berian ASI secara ekslusif. Namun, setelah sekurang-kurangnya bayi berumur di atas 4 bulan, untuk memenuhi kebutuhan akan zat gizi, bayi biasanya diberikan susu formula atau makanan tambahan lainnya. Pada kenyataannya, kaum ibu khususnya di kota-kota besar, dewasa ini cenderung memilih memberikan susu formula baik sebagai pengganti ataupun pendamping ASI dalam memenuhi kebutuhan gizi bagi bayi mereka.
Secara teoretis maupun praktis berdasarkan pengalaman ibu-ibu di lapangan, susu formula memang sangat dibutuhkan untuk menggantikan gizi makanan pada bayi. Namun, pada kenyata­annya susu formula memang masih mahal, terutama bagi ibu-ibu dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Oleh sebab itu, tantangan bagi praktisi kesehatan masyarakat adalah mencipta­kan makanan lokal yang kaya akan protein, vitamin, dan min­eral yang dapat menggantikan susu formula.
B.   Pentingnya Gizi bagi Bayi
Bayi memerlukan gizi pada makanan yang berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Misalnya, pada bayi yang berumur kurang dari 4 bulan, kebutuhannya akan zat-zat gizi berbeda dengan bayi yang berumur di atas 4 bulan.
Menurut Karjadi (1986) banyak para peneliti yang menaruh perhatian terhadap perkembangan Otak di mana sangat erat hubungannya dengan perkembangan mental dan kemampuan berpikir. Jaringan otak anak yang tumbuh normal akan mencapai 80% berat otak orang dewasa sebelum berumur 8 tahun, sehingga dengan demikian apabila pada masa ini terjadi gangguan gizi kurang dapat menimbulkan kelainan­kelainan fisik maupun mental.
Sementara Stoch & Smythe (1963) mengemukakan dalam buku yang sama bahwa gizi kurang pada masa bayi dan anak-anak mengakibatkan kelainan yang sulit atau tidak dapat disembuhkan dan menghambat perkembangan selanjutnya. Pek Hiem Liang, dkk. dalam Suhardjo (1986) dari basil penelitian terhadap kecerdasan (IQ) anak-anak usia 5-15 tahun (yang pernah mengalami gizi kurang diri) perkembangan intelektual Berta perkembangan fisiknya banyak dipengaruhi oleh status gizinya selama masa bayi sampai prasekolah. Dobbing (1974) menyatakan bahwa terdapat 'masa kritis' dalam perkembangan otak manusia di mana pada masa otak berkembang tepat akan sangat rawan terhadap gizi kurang dan ini berada sejak 2 bulan &lam kandungan sampai dengan umur 2 tahun.
Pengaruh gizi kurang pada waktu bayi yang diteliti di kalangan anak-anak Jamaica menunjukkan bahwa setelah umur 6-10 tahun, IQ anak-anak yang menderita gizi kurang pada waktu bayi lebih rendah daripada IQ anak-anak yang cukup gizi pada masa bayinya.
Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan din terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi turun. Oleh karena itu, setiap bentuk gangguan gizi sekalipun dengan gejala defisiensi yang ringan merupakan pertanda awal dari ter­ganggunya kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi. Peneliti­an yang dilakukan dj berbagai negara menunjukkan bahwa infeksi protozoa pada anak-anak yang tingkat gizinya buruk akan jauh lebih parah dibandingkan dengan anak-anak yang gizinya baik.
Gizi buruk mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap produksi antibodi dalam tubuh. Penurunan produksi antibodi tertentu akan mengakibatkan mudahnya bibit penyakit masuk ke dalam tubuh seperti dinding usus. Dinding usus dapat mengalami kemunduran dan. juga dapat mengganggu produksi berbagai enzim untuk pencernaan makanan. Makanan tidak dapat dicerna dengan baik dan ini akan menyebabkan terganggunya penyerapan zat gizi sehingga dapat memperburuk keadaan gizi (Pudjiadi, 1990).
Meskipun data penyebab kematian bayi dan anak jarang menyebutkan secara eksplisit peranan ragam gizi pada bayi, tetapi banyak para ahli gizi masyarakat menekankan penting­nya gizi sebagai salah satu upaya untuk menurunkan AKB (Angka Kematian Bayi) dan anak serta meningkatkan mutu hidup. Dengan kata lain dalam kebijaksanaan pembangunan kesehatan, ragam gizi diakui sebagai salah satu penyebab penting tingginya mobilitas dan mortalitas bayi di Indonesia khususnya, dan di negara-negara berkembang pada umumnya.
Telah banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa penyebab utama dari kematian, penyakit dari terlambatnya pertumbuhan anak (retarted growth) di negara-negara belum maju merupakan kompleksitas hubungan timbal balik yang saling mendorong atau sinergisme antara status gizi dan infeksi (Schrimshaw, dkk. 1968; Chen & Schimshaw, 1981).

C.   Gizi Bayi dan Susu Formula
Semua orang telah mengakui bahwa air susu ibu (ASI) tidak perlu diragukan lagi sebagai makanan bayi yang paling baik. Akan tetapi kadang-kadang oleh suatu sebab tertentu ibu harus menambah atau mengganti ASI ini dengan makanan lain. Keadaan yang mengaharuskan ibu menggantikan ASI kepada bayi atau anaknya antara lain:
a.       Air susu ibu (ASI) tidak keluar.
b.      Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI.
c.       ASI keluar tetapi jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan bayi.
d.      ASI keluar tetapi ibu tidak dapat terus menerus menyusui bayinya karena ibu berada di luar rumah (bekerja di kantor, kebun atau tugas lainnya).
European Society for Paediatric Gactroenterdogy and Nu­trition (ESPGAN) Committe on Nutrition dalam publikasinya pada tahun 1977 membagi formula bayi (infant formula) dalam 2 jenis, formula awal (starting formula) dan formula lanjutan (follow-up formula). Starting formula dalam bentuk bubuk (di Amerika Serikat dan Eropa dipasarkan pula dalam bentuk cair) setelah ditambah dengan sejumlah air sesuai dengan petunjuk produsennya dan jika pemberian sehari-harinya cukup, harus dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi esensial bagi bayi sampai umur 4-6 bulan, dan bersama-sama dengan makanan tambahannya seperti buah, bubur susu, dan nasi tim sampai umur 1 tahun. Starting formula dibagi lagi dalam 2 golongan formula adaptasi (adapted formula) dan formula awal lengkap (complete starting formula).
1.            Formula Adaptasi
Adapted berarti disesuaikan dengan kebutuhan bayi baru lahir. Formula adaptasi ini untuk bayi baru lahir sampai umur 6 bulan. Susunan formula adaptasi sangat mendekati susunan ASI dan sangat baik bagi bayi baru lahir sampai umur 4 bulan. Pada umur di bawah 3-4 bulan fungsi saluran pencemaan dan ginjal belum sempurna hingga pengganti ASI-nya harus me­ngandung zat-zat gizi yang mudah dicerna dan tidak mengan­dung mineral yang berlebihan.
Komposisi yang dianjurkan oleh ESPGAN (1977) setelah bubuk formula tersebut dicairkan sesuai petunjuk produsennya ialah:
a.             Lemak
Kadar lemak disarankan antara 2,4-4,1 gr tiap 100 ml. Komposisi asam lemaknya harus sedemikian hingga bayi umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 8,5%. Disarankan juga bahwa 3-6% dari kandungan energi harus terdiri dari asam linoleat.
b.            Protein
Kadar protein harus berkisar antara 1,2 dan 1,9 gr/100 ml dengan rasio whey/kasein 60/40 oleh karena kandungan protein pada formula ini relatif rendah maka komposisi asam aminonya harus identik atau hampir identik dengan yang terdapat dalam protein ASI.
c.             Karbohidrat
Disarankan untuk formula ini kandungan karbohidratnya antara 5,4 dan 8,2 gram bagi tiap 100 ml. Dianjurkan supaya hampir seluruhnya memakai laktosa, selebihnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Hal ini karena laktosa mudah dipecah menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam mukosa saluran pencernaan sejak lahir. Laktosa juga merangsang pertumbuhan laktobasilus bificfus.
d.            Mineral
Konsentrasi sebagian besar mineral dalam susu sapi seperti natrium, kalsium, kalium, fosfor, magnesium, dan klorida, lebih tinggi 3-4 kali dibandingkan dengan yang terdapat pada ASI. Pada pembuatan formula adaptasi kandungan berbagai mineral harus diturunkan hingga jumlahnya berkisar antara 0,25 dan 0,34 gram tiap 100 ml. Kandungan mineral dalam susu formula adaptasi memang rendah dan mendekati yang terdapat pada ASI. Penurunan kadar mi­neral diperlukan oleh bayi karena dapat mengganggu keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik.
2.            Formula AwaL Lengkap
Berbeda dengan formula adaptasi, pada formula ini terdapat kadar protein yang lebih tinggi dan rasio antara fraksi­fraksi proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio yang terdapat dalam susu ibu. Selain itu kadar sebagian mineralnya lebih tinggi dibandingkan dengan formula adaptasi. Keuntungan dari formula ini terletak pada harganya. Berhubung pembuatannya tidak begitu rumit maka ongkos pembuatannya juga lebih murah sehingga dapat dipasarkan dengan harga yang lebih rendah. Susu formula awal lengkap ini diberikan untuk bayi berusia 4-6 bulan.
3.            Formula Lanjutan
Formula ini diperuntnkkan bagi bayi berumur 6 bulan ke atas. Telah diuraikan bahwa formula adaptasi dibuat sedemikian, sehingga tidak memberatkan fungsi pencernaan dan ginjal yang pada waktu lahir belum sempurna. Maka dari itu dalam formula adaptasi zat-zat gizinya cukup untuk pertumbuhan yang normal dan mencegah timbulnya penyakit- penyakit gizi yang disebabkan oleh kekurangan maupun kelebihan masukan zat-zat gizi tersebut. Oleh karena pada umur 4-5 bulan fungsi organ-organ sudah memadai maka kelebihan zat gizi dapat dikeluarkan lagi oleh ginjal. Di samping itu, dengan pertumbuhan yang cepat dan aktivitas fisik yang bertambah maka formula adaptasi tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan bayi di atas 6 bulan, pertumbuhan yang cepat memerlukan protein ekstra untuk perkembangan dan juga lebih banyak mineral. Formula lanjutan dapat diberikan pada anak dari usia 6 bulan - 3 tahun.

D.               Makanan Tambahan
ASI dalam jumlah yang cukup memang merupakan makanan terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4-6 bulan pertama. Namun, setelah umur 4 bulan, kebutuhan gizi bayi meningkat sehingga bayi memerlukan makanan tambahan yang tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh ASI saja. Setelah bayi berumur 4 bulan secara berangsur-angsur perlu diberikan makanan tambahan berupa sari buah atau buah-buahan segar, makanan lumat, dan akhirnya makanan lembek.
1.            Pentingnya pemberian makanan tambahan
Tujuan dan pentingnya pemberian makanan tambahan menurut Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi: 1992) antara lain:
a.       Melengkapi zat-zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI
b.      Mengembangkan kemampuan bayi-untuk menerima, bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan tekstur.
c.       Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
d.      Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi yang tinggi.
2.            Cara memberikan makanan tambahan
Agar makanan tambahan dapat diberikan dengan efisien, sebaiknya diperhatikan cara-cara pemberiannya sebagai berikut.
a.             Diberikan secara berhati-hati, sedikit demi sedikit, dari: bentuk encer secara berangsur-angsur ke bentuk yang lebih kental.
b.            Makanan baru diperkenalkan satu persatu dengan memperhatikan bahwa makanan betul-betul dapat diterima dngan baik.
c.             Makanan yang menimbulkan alergi, yaitu sumber protein hewani diberikan terakhir.
d.            Makanan jangan dipaksakan, sebaiknya diberikan pada waktu bayi lapar.
E.   Kebutuhan Gizi pada Bayi
          Pemberian makanan tambahan sebagai makanan pendamping ASI harusdisesuaikan dengan umur bayi. Karena itu alternative pemenuhan gizi bayi pun harus disesuaikan dengan umur bayi.


Ditulis Oleh : ika putriey Hari: 12.57 Kategori:

0 komentar: